
A. Pengertian Ilmu Tauhid
Secara etimologi, kata tauhid berasal dari bahasa Arab, bentuk mashdar dari kata وحّد , artinya mengesakan. Sedangkan secara terminologi, terdapat beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama sebagai berikut:
Menurut Syeikh Muhammad Abduh, tauhid adalah suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah Swt, sifat-sifat yang wajib tetap pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada-Nya, dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari-Nya. Sedangkan Prof. M. Thahir A. Muin mendefinisikan tauhid sebagai ilmu yang menyelidiki dan membahas soal yang wajib, mustahil, dan yang jaiz bagi Allah Swt dan utusan-utusan-Nya; serta mengupas dalil-dalil yang mungkin cocok dengan akal pikiran sebagai alat untuk membuktikan ada-nya Dzat yang mewujudkan. Dengan redaksi yang berbeda dan sisi pandang yang lain Ibnu Khaldun mengatakan bahwa ilmu tauhid adalah ilmu yang berisi alasan-alasan dari akidah keimanan dengan dalil-dalil ‘aqliyah dan berisi pula alasan-alasan bantahan terhadap orang-orang yang menyelewengkan akidah salaf dan ahli sunnah.
Selama hayatnya, Rasulullah Saw berjuang dengan gigih menegakkan tauhid di tengah masyarakat yang hidup dalam kekafiran dan kemusyrikan. Beliau mengajak mereka untuk bertauhid dan memberikan pendidikan ketauhidan yang intensif kepada para sahabat dan pengikutnya. Beliau juga memberikan contoh kongkrit dan tauladan positif bagaimana sikap hidup manusia bertauhid yang tercemin dalam perkataan, sikap hidup, kepribadian, dan prilaku sehari-hari.
Tauhid adalah meyakini keesaan Allah Swt dalam rubûbiyyah, ikhlas beribadah kepadanya, serta menetapkan baginya nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dengan demikian tauhid ada tiga macam tauhid rubûbiyyah, ulûhiyyah, dan asmâ wa sifât
Tauhid rubûbiyyah yaitu mengesakan Allah Swt dalam segala perbuatan-Nya dengan meyakini bahwa dia sendiri yang menciptakan segala makhluk. Allah Swt berfirman:
الله خالق كل شيء و هو على كل شيء وكيل [الزمر:62-63]
Allah Swt menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu.(QS. Al-Zumar: 62-63)
Allah Swt menyatakan pula tentang keesaan-Nya dalam rubûbiyyah-Nya atas alam semesta. Allah Swt berfirman:
الحمدُ لله رب العالمين (الفاتحة:2)
Segala puji bagi Allah Swt, Tuhan semesta alam.(QS. Al-Fâtihah: 2)
Tauhid rubûbiyyah juga mengharuskan adanya tauhid ulûhiyyah. Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rubûbiyyah untuk Allah Swt dengan meyakini tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam kecuali Allah Swt, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Swt. Jadi tauhid rubûbiyyah adalah bukti wajibnya tauhid ulûhiyyah.
Tauhid ulûhiyyah adalah mengesakan Allah Swt dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nadzar, kurban, takut, tawakal, dan sebagainya. Jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul yang pertama hingga yang terakhir. Allah Swt berfiman:
و لقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله و اجتنبوا الطاغوت [النحل : 36]
Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah Swt (saja), dan jauhilah Thaghut itu" (QS. An-Nahl: 36)
Sifat-sifat Allah Swt terbagi menjadi dua bagian. Pertama, sifat dzâtiyyah, yakni sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya. Sifat ini tidak terlepas dari Dzat-Nya, seperti sifat Sama‘, Bashar, Qudrat, Iradat, dan sebagainya.
Kedua adalah sifat fi’liyyah, yaitu sifat yang Dia perbuat jika berkehendak. Seperti, bersemayam di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia pada sepertiga akhir dari malam, dan sebagainya.
B. Tujuan Ilmu Tauhid
Tauhid tidak hanya sekedar diketahui dan dimiliki oleh seseorang, tetapi harus dihayati dengan baik dan benar. Apabila tauhid telah dimiliki, dimengerti, dan dihayati dengan baik dan benar, seseorang akan menyadari kewajibannya sebagai hamba Allah Swt dengan sendirinya.. Hal ini akan nampak dalam ibadahnya maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
Tujuan Ilmu Tauhid diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sebagai sumber dan motivator perbuatan kebajikan dan keutamaan.
2. Membimbing manusia ke jalan yang benar, sekaligus mendorong mereka untuk mengerjakan ibadah dengan penuh keikhlasan.
3. Mengeluarkan jiwa manusia dari kegelapan, kekacauan, dan kegoncangan hidup yang dapa menyesatkan.
4. Mengantarkan manusia kepada kesempurnaan lahir dan batin.
C. Akidah Pokok Islam
Secara etimologi, akidah berasal dari kata عقد yang berarti pengikatan. Sedangkan secara terminologi, akidah adalah iman kepada Allah Swt swt, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Akidah merupakan perbutan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.
Iman kepada Allah Swt artinya meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt itu wajib tersifati dengan sifat yang wajib bagi-Nya, mustahil memiliki sifat yang mustahil bagi-Nya, dan memiliki sifat yang jaiz bagi-Nya. Sifat yang wajib bagi Allah Swt ada 20 yang terbagi ke dalam empat keompok, yaitu sifat Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma‘anni, dan Ma‘nawiyyah. Sedangkan sifat-sifat yang mustahil baginya berjumlah 20 yang merupakan lawan dari sifat-sifat yang wajib bagi-Nya. Sementara sifat yangt jaiz bagi-Nya ada satu, yaitu berkehendak atau tidak berkehendak.
Iman kepada Malaikat-malaikat-Nya artinya meyakini dengan sepenuh hati bahwa para malaikat adalah cipataan Allah Swt yang diciptakan dari cahaya. Mereka masing-masing diberi tugas oleh Allah Swt. Malaikat yang wajib diketahui berjumlah sepuluh, sedangkan jumlah seluruhnya hanya Allah Swt yang mengetahuinya.
Iman kepada kitab-kitab-Nya artinya meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para utusan-Nya agar menjadi petunjuk hidup pada zamannya maing-masing. Kitab-kitab Allah Swt yang wajib diketahui ada 4 kitab, yaitu Zabur, Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Adapun sebagian para rasul menerima suhuf-suhuf untuk menjadi pegangan hidupnya.
Iman kepada para utusan Allah Swt artinya mempercayai dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah Swt telah mengirimkan utusan-utusan-Nya kepada manusia sejak Nabi Adam As hingga Nabi Muhammad Saw agar memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang Allah Swt kehendaki. Jumlah Rasul ynag wajib diketahui ada 25 orang, sedangkan jumlah keseluruhannya hanya Allah Swt saja yang mengetahuinya. Tetapi menurut sebagian ulama, para nabi seluruhnya berjumlah 124.000 orang dan para rasul berjumlah 315 orang.
Iman kepada Hari Akhir artinya mempercayai dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah Swt telah menciptakan Hari Kiamat sebagai alam terakhir tempat pertanggungjawaban amal seluruh manusia sejak Nabi Adam AS hingga umat Nabi Muhammad Saw dan tempat kembali yang hakiki untuk tinggal di neraka atau surga.
Iman kepada takdir baik dan buruknya artinya meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt telah menentukan baik buruknya nasib seseorang 40 tahun sebelum diciptakannya.
http://www.4shared.com/file/195842079/bae429a/AKIDAH_POKOK.html
Komentar
Posting Komentar