MUSHTHALAH AL-HADITS: PENGERTIAN HADITS SHAHIH


Hadîts Ahâd, baik Hadîts Masyhûr, ‘Azîz, maupun Gharîb, bila ditinjau dari sisi kulitasnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: Hadîts Shahîh, Hasan, dan Dha‘îf.
A. HADÎTS SHAHÎH
Secara etimologis, al-shahîh الصحيح)) merupakan bentuk fâ‘il dari kata al-shihhah (الصحة) dengan wazan fa‘îl (فعيل) yang berarti sehat antonim kata sakit. Adapun al-shahîh dalam Ilmu Hadis bersifat majâzî yang berupa isti‘ârah taba‘iyyah. Menurut Syaikh Ibn Jibrîn, al-shahîh dalam Ilmu Hadis bermakna al-tsâbit (الثابت) artinya tetap; صح الحديث berarti
ثبت نقله و اعتمد و وثق به
"Periwayatannya dapat dipertanggungjawabkan."
Para ulama Muhadditsûn memberikan definisi Hadîts Shahîh yang sama dengan redaksi yang berbeda-beda antara lain sebagai berikut:
1. Menurut Syaikh al-Bayqûnî, Hadîts Shahîh adalah
ما اتصل إسناده و لم يشذ أو يعل، يرويه عدل ضابط عن مثله معتمد في ضبطه و نقله
"Hadits yang memiliki sanad muttashil; tidak syâdzdz,; tidak ber-‘illah; dan diriwayatkan oleh orang-orang yang ‘adl dan berdaya ingat kuat serta dapat dipertanggungjawabkan "
2. Syaikh Mahmûd al-Thahhân mendefinisikan Hadîts Shahîh:
ما اتصل سنده بنقل العدل الضابط عن مثله إلى منتهاه من غير شذوذ و لا علة
"Hadits yang memiliki sanad muttashil serta diriwayatkan oleh orang-orang yang ‘adl dan berdaya ingat kuat dari awal sampai akhir sanad tanpa adanya syudzûdz dan ‘illah"
3. Syaikh Al-Nawâwî memberikan ta‘rif Hadîts Shahîh yang lebih singkat:
ما اتصل سنده بالعدول الضابطين من غير شذوذ و لا علة
"Hadits yang memiliki sanad muttashil dan para periwayat yang ‘adil dan berdaya ingat kuat tanpa adanya syâdzdz dan ‘illah"
4. Pengertian Hadîts Shahîh menurut Syaikh Ibn Jibrîn:

ما رواه عدل ضابط معتمد في ضبطه و نقله، و اتصل إسناده دون أن يكون فيه انقطاع، و سلم من العلة و الشذوذ
"Hadits yang diriwayatkan oleh orang yang ‘adl dan dapat dipertanggungjawabkan daya ingat dan periwayatannya, sanad-nya bersambung, serta tidak terdapat ‘illah dan syudzûdz"

Definisi-definisi Hadîts Shahîh di atas dapat disimpulkan bahwa Hadîts Shahîh adalah hadîts yang memenuhi syarat-syarat berikut ini:
1. Ittishâl al-Sanad (bersambungnya sanad)
Menurut Syaikh Ibn Al-‘Utsaymîn, Ittishâl al-Sanad adalah
ما روي بإسناد متصل بحيث يأخذه كل راو عمن فوقه...فهذا النوع يكون متصلا، لأنه يقول "حدثني" فكل واحد أخذ عمن روى عنه
" Hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang muttashil, yaitu tiap-tiap periwayat menerima hadits dari orang yang ada sebelumnya…cara seperti ini disebut muttashîl karena tiap periwayat mengatakan, "telah mengatakan kepadaku". Mereka menerima hadîts secara lansung dari periwayat lain yang ada sebelumnya".
Syaikh Ibn Jibrîn menyatakan bahwa Ittishâl al-Sanad adalah
كون هذا يرويه عن هذا و قد لقيه...إلى أن يأتي إلى الصحابي الذي سمعه من الرسول صلى الله عليه و سلم
" Seorang periwayat menerima hadîts dari periwayat lain sambil bertatap muka…sampai bertemu periwayatannya di sahabat yang mendengar langsung dari Rasulullah Saw"
Syaikh Mahmûd al-Thahhân mendefinisikan Ittishâl al-Sanad
كل راو من رواته قد أخذه مباشرة عمن فوقه من أول السند إلى منتهاه
"Setiap periwayat menerima hadîts dari periwayat sebelumnya secara langsung dari awal sampai akhir sanad"
Jika berpijak pada penjelasan di atas, maka suatu hadis yang memiliki sanad tidak muttashîl, dalam arti munqathi‘, mu‘dhal, atau mursal, berstatus dhâ‘îf.
2. ‘Adâlah Al-Râwi (عدالة الراوي)
Makna asal al-‘adl adalah al-istiqâmah (الإستقامة). Seperti dalam perkataan orang Arab:
هذا طريق عدل؛ أي: مستقيم
Adapun dalam istilah akhlak, al-‘adl merupakan sifat seseorang yang istiqamah di dalam agama dan menjaga murû'ah. Murû'ah adalah
أن يفعل ما يجمله و يزينه، و يدع ما يدنسه و يشينه
"Melakukan perbuatan yang dapat membaguskan citra dan meninggalkan perbuatan sebaliknya."
Menurut Fuqahâ, ‘Adâlah ialah mengerjakan kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan serta menjaga tata krama dan murû'ah.
Syaikh Mahmûd al-Thahhân mendefinisikan ‘Adâlah Al-Râwi sebagai berikut:
كل راو من رواته اتصف بكونه مسلما بالغا عاقلا غير فاسق و غير مخروم المروءة
" Setiap periwayat muslim, bâligh, berakal, tidak fasik, dan tidak melakukan hal yang dapat menjatuhkan murû'ah."
Dari pengertian ‘Adâlah al-Râwi di atas, hadis yang terdapat periwayat yang majhûl al-‘ain wa al-hâl (مجهول العين والحال) dan ma‘rûf bi al-dha‘îf (معروف بالضعيف), berstatus dhâ‘îf.
3. Tamâm Dhabt al-Râwi (تمام ضبط الراوي)
Syaikh Mahmûd al-Thahhân mendefinisikan Tamâm Dhabt al-Râwi, mempunyai daya ingat yang sempurna baik Dhabt Shadr maupun Dhabt Kitâb. Adapun yang dimaksud dengan Dhabt Shadr adalah:
أن يثبت ما سمعه في ذهنه بحيث يتمكن من استحضاره متى شاء
"Tetapnya hadîts yang didengarnya di dalam ingatan sehingga mampu mengemukakannya kapan saja."
Sedangkan Dhabt Kitâb adalah:
أن يصونه عنده منذ سمع فيه و صححه إلى أن يؤدي منه
"Menjaga keadaan tulisan hadîts dari perubahan, sejak pertama kali mendengarnya sampai saat meriwayatkannya kepada orang lain."
4. Al-Salâmah Min al-‘Illah (السلامة من العلة)
Al-‘Illah menurut Syaikh Mahmûd al-Thahhân adalah
سبب غامض خفي يقدح في صحة الحديث، مع أن الظاهر السلامة منه
"Faktor penyebab kecacatan suatu hadis yang bersifat samar serta dapat merusak status ke-shahih-annya padahal secara kasat mata hadis tersebut tidak ditemukan adanya ‘illah"
Begitu juga para ulama ahli Ilmu Hadîts lainnya, seperti Dr. Shubhî al-Shâlih dan Jamaluddin al-Qassimî, mendefinisikan Al-‘Illah persis sama dengan apa yang diungkapkan Syaikh Mahmûd al-Thahhân.
5. Al-Salâmah Min al-Sudzûdz (السلامة من الشذوذ)
Al-Sudzûdz menurut Syaikh Mahmûd al-Thahhân adalah
مخالفة الثقة لمن هو أوثق منه
"Ketidaksesuaian seorang periwayat yang tsiqah dengan periwayat lain yang lebih tsiqah"
Syaikh Ibn Jibrîn menambahkan pengertian al-Syudzûdz dengan menyebutkan
...أو أكثر منه عددا
"…atau berseberangan dengan periwayat yang tsiqah dan berjumlah lebih banyak"
Selanjutnya, para ahli Hadîts membagi Hadîts Shahîh menjadi dua macam: Hadîts Shahîh Li Dzâtih (صحيح لذاته) dan Shahîh Li Ghairih (صحيح لغيره). Sebuah hadîts diberi status Hadîts Shahîh li Dzâtih jika memenuhi syarat-syarat Hadîts Shahîh di atas secara sempurna, seperti hadîts yang diriwayatkan oleh al-Bukhârî berikut ini:
حدثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن ابن شهاب عن محمد بن جبير بن مطعم عن أبيه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم قرأ في المغرب بالطور.
Hadîts di atas berstatus shahîh karena memenuhi syarat-syarat Hadîts Shahîh berikut ini:
1. Memiliki sanad yang muttashil karena setiap periwayat menerima hadîts secara langsung dari gurunya walaupun banyak periwayat yang menggunakan shîghah al-'adâ'-nya ‘an‘anah (عنعنة), seperti Mâlik, Ibn Syihâb, dan Muhammad Ibn Math‘am. Periwayatan ‘an‘anah seperti ini tetap dihukumi ke-muttashil-annya karena para periwayatnya tidak dikenal sebagai mudallis.
2. Para periwayatnya ‘udûl dan dhâbith. Berikut ini pemaparan ulama al-jarh wa al-ta‘dîl tentang status para periwayat hadits riwayat al-Bukhârî di atas:
a. Abdullâh Ibn Yusuf seorang yang tsiqah dan dapat dipertanggungjawabkan periwayatannya.
b. Mâlik Ibn Anas seorang imam yang hâfîzh.
c. Ibn Syihâb al-Zuhrî seorang yang faqîh, hâfizh, dan disepakati kredibilitasnya.
d. Muhammad Ibn Zubair seorang yang tsiqah.
e. Jubair Ibn Muth‘im seorang sahabat Nabi Saw.
3. Tidak syâdzdz.
4. Tidak ditemukan satu illah pun di dalamnya.
Adapun Hadîts Shahîh li Ghairih merupakan Hadîts Hasan li Dzâtih yang dinaikkan statusnya menjadi Hadîts Shahîh karena adanya hadis lain yang mendukungnya, baik dengan jalur sanad yang sama maupun berbeda dan lebih banyak meskipun berstatus lebih rendah, seperti hadîts yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzî berikut ini:
حدثنا أبو كريب حدثنا عبدة بن سليمان عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة
Semua periwayat pada hadis di atas memiliki daya ingat yang sempurna (dhabt tâmm) kecuali Muhammad Ibn ‘Amr yang kurang daya ingatnya sehingga hadisnya berstatus Hasan li Dzâtih. Kemudian terdapat hadis yang sama dengan jalur yang berbeda tetapi statusnya lebih tinggi, yaitu Shahîh. Hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhârî dengan redaksi sebagai berikut:
حدثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لولا أن أشق على أمتي أو على الناس لأمرتهم بالسواك مع كل صلاة
Dengan adanya hadis lain yang lebih kuat, maka riwayat al-Tirmidzî yang berstatus Hasan li Dzâtih menjadi Shahîh li Ghairih.
Beberapa catatan mengenai Hadîts Shahîh:
1. Kitab Hadîts Shahîh yang pertama kali ditulis adalah Kitab Shahîh al-Bukhârî, lalu kitab Shahîh Muslim. Jilka dilihat dari keseluruhan isi kitab, Kitab Shahîh al-Bukhârî merupakan kitab hadis yang paling shahih di bandingkan dengan kitab Shahîh Muslim dikarenakan beberapa hal:
1. Imam al-Bukhârî adalah orang yang paling ketat dalam masalah Ittishâl al-Sanad dan selektifitasnya dalam menentukan periwayat yang tsiqah.
2. Di dalamnya terdapat istinbath hukum, baik masalah fikih, hikmah, dan sebagainya yang tidak didapati dalam Kitab Shahîh Muslim.
2. Tingkatan-tingkatan Hadîts Shahîh:
1. Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhârî dan Muslim.
2. Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhârî saja.
3. Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim saja.
4. Hadis memenuhi syarat al-Bukhârî dan Muslim.
5. Hadis yang memenuhi syarat al-Bukhârî saja.
6. Hadis memenuhi syarat Muslim saja.
7. Hadis memenuhi syarat para imam Hadis selain al-Bukhârî dan Muslim, seperti Imam Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban.
3. Maksud perkataan analis Hadis "متفق عليه" adalah hadis tersebut telah disepakati ke-shahih-annya oleh al-Bukhârî dan Muslim.
4. Hadîts Shahîh tidak disyaratkan sanad-nya itu ‘Azîz karena ditemukan dalam kitab Shahîh al-Bukhârî dan Muslim hadîts yang memiliki sanad gharîb.
Unduh di Sini ^_^

Komentar