KESULTANAN SAMUDERA PASAI

PEMBAHASAN

A. Kondisi Sebelum Kedatangan Islam
Samudera, sebelum kedatangan Islam, hanyalah sebuah kampung yang dipimpin oleh seorang kepala suku. Meskipun belum menjadi kota, kampung tersebut sudah berfungsi sebagai tempat persinggahan para pedagang. Sejak abad ke-7, kampung ini mulai didatangi oleh pedagang muslim. Sedangkan Pasai merupakan suatu nama tempat di dekat Sungai Pasai. Akan tetapi pada akhirnya, Samudera dan Pasai menjadi satu karena letaknya berdampingan.
B. Asal Mula Kerajaan Samudera Pasai
Para saudagar muslim dari negara-negara Islam melakukan Islamisasi secara bertahap. Dakwah yang mereka lakukan dapat diterima oleh masyarakat karena prinsipnya yang berbeda dengan agama yang mereka anut selama ini. Agama Hindu memandang perbedaan antara sesama manusia, sedangkan Islam memandang manusia berkedudukan sama di hadapan manusia yang lainnya dan di hadapan Allah Swt. Adapun yang membedakan kedudukan manusia hanyalah dihadapan Allah sesuai kadar ketakwaan kepada-Nya.
Setelah sekian lama berdakwah, orang-orang Islam pun kian bertambah banyak. Pada awalnya, kaum muslimin hanya melakukan pelayaran dan perdagangan. Tetapi, setelah Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran dan runtuh oleh serangan Kerajaan Singosari pada tahun 1275 M, kaum muslimin dengan dipelopori oleh para pedagang memulai peranannya dalam bidang politik. Mereka mendukung berdirinya kerajaan-kerajaan bercorak Islam, seperti Kerajaan Samudera Pasai yang akan dipaparkan selanjutnya.
Inilah argumentasi sejarawan muslim yang menyatakan bahwa Kerajaan Samudera Pasai didirikan pada awal atau pertengahan abad ke-13. Pendapat ini salah satunya dipegang oleh Dr. Badri Yatim dan Nor huda. Berbeda dengan sejarawan muslim yang lain, seperti Prof. A. Hasyimy, beliau menyatakan bahwa Kerajaan ini mulai berdirinya pada abad ke-11, tepatnya pada tahun 433H/1042 M. Dengan begitu, raja yang pertama memimpinnya pun pasti berbeda. Sejarawan Dr. Badri Yatim, M.A menyatakan bahwa raja pertama Kerajaan Samudera Pasai adalah Malik al-Saleh. Sedangkan menurut Prof. A. Hasyimy, raja pertama kerajaan ini adalah Meurah Khair dengan gelar Maharaja Mahmud Syah yang memerintah hingga tahun 1078 M. Menurut versi beliau, raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Samudera Pasai setelah wafatnya Meurah Khair secara berturut-turut adalah
1. Maharaja Mansur Syah (470-527 H/1078-1113M)
2. Maharaj Ghiyasyudin Syah (cucu Meurah Khair) (527-550H/1113-1155M)
3. Maharaja Nuruddin (Meurah Noe) atau Tengku Samudera yang lebih terkenal dengan sebutan Sultan al-Kamil (550-607H/1155-1210M).
Pendapat di atas muncul setelah ditemukannya beberapa petunjuk dan sumber-sumber baru, di antaranya keterangan-keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara dan dua buah naskah lokal yang ditemukan di Aceh, yaitu Idhâ al-Haq Fî Mamlakat Peureula karya Abu Ishak al-Makarany dan Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh.
Setelah Sultan al-Kamil meninggal, terjadi perebutan kekuasaan di lingkungan istana karena beliau tidak mempunyai putera sebagai pewaris kerajaan. Kerajaan Samudera Pasai mengalami keadaan kacau balau karena perebutan kekuasaan selama lima puluh satu tahun. Pada akhirnya, pada tahun 1261 barulah Meurah Silo yang bergelar al-Malik al-Saleh menduduki singgasana kerajaan.
Menurut sebagian sejarawan muslim, dalam hal ini diwakili oleh Dr. Badri Yatim, pada mulanya Sultan Malik al-Saleh sebelum menjadi raja bernama Merah Sile atau Merah Selu dan beragama Hindu.. Ia masuk Islam berkat pertemuannya dengan utusan Syarif Mekah, yang kemudian memberinya gelar Sultan al-Malik al-Saleh. Merah Selu merupakan putera Merah Gajah. Nama Merah merupakan gelar bangsawan yang lazim di Sumatera Utara. Kata Selu kemungkinan berasal dari Sanskrit Chula.
Sedangkan menurut sejarawan lainnya, seperti yang diungkapakan oleh Prof A. Hasyimy, Merah Selu merupakan putera Makhdum Malik Abdullah (Meurah Seulangan/Meurah Jaga) yang berhenti di Sultan Makhdum Malik Ibrahim, Raja Perlak yang memerintah pada atahun 365-402H/976-1012M. Silsilah beliau menunjukkan dengan jelas bahwa beliau adalah keturunan Raja Islam Perlak, bukannya seorang yang bergama Hindu kemudian di-Islam-kan oleh Syeikh Ismail sebagaimana didalam cerita-cerita dongeng. Adapun gelar Sultran al-Malik al-Shalih diberikan oleh Syeikh Ismail al-Zarfy karena tertarik dengan kerajaan Islam Samudera Pasai yang makmur dan kuat. Pada saat itu, gelar ini dipakai oleh Raja Mesir, Sultan al-Malik al-Shalih Najmuddin al-Ayyuby yang sedang menghadapi perang salib yang dipimpin oleh Raja Perancis.
Raja-raja Samudera Pasai dapat diketahui urutan-urutannya melaui mata uang dirham yang berlaku menjadi alat tukar pada saat itu. Menurut T. Ibrahim Alfian urutan-urutan raja yang memerintah di kerajaan tersebut adalah:
1. Sultan Malik al-Shaleh yang memerintah sampai tahun 1297 M.
2. Sultan Muhamad Malik al-Zhahir (putera tertua Malik al-Saeh) (1297-1326M)
3. Sultan Mahmud Malik al-Zhahir (1326-1345)
4. Mansur Malik al-Zhahir (?-1346)
5. Sultan Ahmad Malik al-Zhahir (1346-1383)
6. Sultan Zainul ‘Abidin Malik al-Zhahir (1383-1405)
7. Sulthanah Nahrasiyah (1405-1412)
8. Sultan Shalahuddin (1402-?)
9. Abu Zaid Malik al-Zhahir (?-1455)
10. Mahmud Malik al-Zhahir (1455-1477)
11. Zain al-‘Abidin (1477-1500)
12. Abdul Malik al-Zhahir (1501-1513)
13. Sultan Zainul ‘Abidin
C. Perkembangan Kerajaan Samudera Pasai
Sekian lama Kerajaan Samudera Pasai berdiri, semakin maju perkembangannya dalam segala bidang, baik bidang perekonomian, ilmu pengetahuan, seni dan politik.


1. Bidang Perekonomian
Dalam bidang ekonomi, sejak akhir abad ke-13 sampai abad ke-16, kerajaan ini memiliki basis perdagangan dan pelayaran. Letaknya yang strategis sebagai tempat persinggahan para pedagang dari berbagai penjuru dunia yang hilir mudik membuat pesisir semakin ramai dikunjungi orang. Samudera Pasai merupakan penghubung antara pusat-pusat perdagangan yang terdapat di Kepulauan Indonesia, India, Cina, dan Arab. Kerajaan memperoleh penghasilan yang besar dari pungutan pajak terhadap kapal-kapal yang membawa barang-barang dari Barat sebesar 6%. Selain itu juga, Samudera Pasai memiliki komoditas ekspor lada yang menambah pendapatan kerajaan. Sebagai salah satu pusat perdagangan, Kerajaan Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang bernama deureuham atau dirham yang sistem penempaannya berpengaruh di dunia Melayu. Di bawah pemerintahan Sultan Muhamad Malik al-Zahir (1297-1326), kerajaan ini mengeluarkan mata uang yang beridentitaskan ketuhanan. Mata uang tersebut sampai saat ini dianggap sebagai mata uang tertua yang pernah dikeluarkan oleh sebuah Kerajaan Islam di Asia Tenggara.
2. Bidang Ilmu Pengetahuan
Kemajuan dalam bidang ini terjadi pada masa pemerintahan dipegang oleh Sultan Malik al-Zhahir (1297-1326M). Ilmu yang berkembang pesat pada masa kerajaan ini adalah ilmu agama. Ilmu pengetahuan mengalami kemajuan pesat karena rajanya juga cinta ilmu pengetahuan bahkan beliau pun seorang ulama yang suka berdiskusi dengan para ahli fikih terutama yang bermadzhab Syafi‘iyyah, seperti yang dituturkan oleh Ibn Batuthah yang berkunjung ke sana pada tahun 1345 M. Bahkan beliau pun, sebagai seorang ilmuwan muslim disambut dengan ramah tamah dan diajak berdiskusi oleh sultan setelah selesai melaksanakan Shalat Jum’at sampai tiba waktu Ashar. Oleh karena penerimaan kerajaan terhadap para pecinta ilmu pengetahuan sangat baik, banyak sekali ilmuwan-ilmuwan muslim terutama para sufi dari Persia yang berkunjung ke nusantara ini. Di antara mereka adalah Jihan Syah yang datang dari Pesisir Malabar (pantai India Barat). Belaiu singah dulu di Aceh dan berdakwah di sana sehingga akhirnya belaiu memainkan peran atas berdirinya Kerajaan Aceh.
Selain memainkan peranan penting dalam menarik hati para pecinta imu untuk datang ke sana, kerajaan pun tidak lupa untuk mengirimkan para ahli ilmunya untuk berdakwah di pelosok tanah air yang masih musyrik. Maka diutuslah dua orang ke daerah Jawa, yaitu Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak yang bergela Syeikh Awwalul Islam. Dengan cara ini, kerajaan pun berhasil menarik simpati para pendakwah Timur Tengah untuk ikut berpartipasi menyebarkan Islam di tanah air ini. Maka datanglah serombongan pendakwah dari tanah Arab yang dipimpin oleh Syeikh Ali al-Qaisar dan Raja Abdul Jalil Ibn Sulthan Al-Qahhar menuju Sulawesi. Mereka bertolak dari Pidi dan berlabuh di Makasar. Mereka akhirnya dapat memasukkan Raja Bone ke dalam agama Islam.
Dakwah yang gencar dilakukan oleh para mujahid ini semakin lama semakin banyak orang yang masuk Islam secara sukarela, termasuk para raja, seperti Raja Hindia, Melaka Parameswara yang berganti nama menjadi Megat Iskandar Syah pada tahun 1414 M
3. Bidang Politik
Sultan Malik al-Zhahir adalah seorang politikus. Untuk memperkuat hubungan antara kerajaan Islam di Nusantara, beliu menikahi puteri Sultan Perlak, Sultan Makhdim Alaidin Malik Muhamad Amin Syah II (688-725H/1289-1326M), yang bernama Puteri Ganggang.
Bahkan untuk mencegah terjadinya persaingan kerajaan-kerajaan Islam di nusantara, seperti yang terjadi pada dinasti-dinasti Islam di Timur Tengah, Sultan Malik al-Zhahir menyatukan Kerajaan Samudera Pasai dan Perlak setelah pernikahannya beliau dengan puteri sultan Perlak.
Dalam menjalin persatuan dan kesatuan Khilafah Islamiyyah dunia, kerajaan Samudera Pasai tunduk di bawah pemerintahan pusat Dinasti Turki Usmani. Hal ini terbukti dengan permintaan bantuan Sultan Malik al-Dzahir kepada Sultan Dinasti ini untuk melawan Portugis.
4. Bidang Pemerintahan
Sebagaimana penuturan Ibn Batuthah tentang Samudera Pasai pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Zhahir, adat kerajaan yang dilakukan sangat menghargai dan mengangkat wibawa orang-orang penting kerajaan, seperti sultan, para menteri, dan ilmuwan-ilmuwan muslim. Misalnya, pada saat sultan keluar mesjid, di halaman sudah berbaris gajah-gajah dan kuda. Jika sultan menunggang gajah, maka para menteri dan ilmuwan serta orang-orang penting lainnya menunggang kuda secara bersama-sama. Apabila sultan menaiki kuda, maka mereka menunggangi gajah dan para ulama di sebelah kanan sultan. Setelah sampai di istana, para menteri, ulama, dan keluarga istana berbaris ber-shaf-shaf Baris pertama adalah para menteri berjumlah empat orang dan para penulis. Kemudian mereka mengucapkan salam kepada sultan. Disusul oleh baris ke dua, barisan para ulama. Setelah itu barisan anak-anak raja, kemudian para hakim, penyair, pelayan kerajaan, dan terakhir para hamba sahaya.
5. Bidang Seni
Dalam adat kerajaan, setelah sultan sampai di istana, kepala sultan disediakan payung yang ditatah dengan permata, di sebelah kanan dan kirinya nya 50 ekor gajah yang dihiasi, dan dihadapannya berdiri para pengawal pilihan. Kemudian para penyanyi dan penyair melakukan aksinya di depan sang sultan. Setelah itu dibawa kuda-kuda yang diberi pakain sutera dan bergelang dari emas sambil menari.
D. Akhir Kerajaan Samudera Pasai
Pada tahun 1524, Kerajaan Islam Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. Saat itu, Kesultanan Aceh sedang dipimpin oleh Sultan ali Mughayat Syah. Setelah sekian lama, pada akhirnya kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya bersatu menjadi satu pada Kesultanan Aceh Darus Salam, seperti Tamiang dan Lamuri.

DAFTAR PUSTAKA
Hasyimy, A. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, 3rd. T.tp: al-Ma‘rif, 1993.

Huda, Nor. Islam Nusantara: Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II , 15th ed. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2003.
Silahkan Unduh di Sini

Komentar