1.
Asal Mula Munculnya Aliran
TGG
Selama
puluhan tahun, linguistik struktural digandrungi para linguis modern sebagai
satu-satunya aliran yang pantas diikuti dalam menganalisis bahasa. Kemudian
pada tahun 1957, Aliran Transformational Generative Grammar atau dalam
bahasa Indonesia lazim disebut tata bahasa transformatif, tata bahasa
generatif atau tata bahasa transformasi klasik, lahir dengan
terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Structure pada tahun
1957. Teori ini dikembangkan pada bukunya yang ke dua berjudul Aspect of The
Theory of Syntax pada tahun 1965. Dalam buku ini, Chomsky telah
menyempurnakan teorinya mengenai sintaksis dengan mengadakan beberapa perubahan
prinsipil yang dikenal dengan istilah "Standard Theory". Kemudian dikembangkan lagi pada tahun 1972
dan diberi nama "Extended Standard Theory". Pada tahun 1975
direvisi kembali dan diberi nama "Revised Extended Standard Theory".[1]
2. Pandangan-pandangan
Aliran TGG
Pandangannya tentang bahasa cenderung bersifat rasional-mentalistis yang berbeda dengan pandangan linguis pada saat itu di Amerika Serikat yang sangat empiris.[2]
Dalam bukunya yang pertama, Chomsky
menyatakan bahwa semua bahasa manusia itu sama prinsipnya. Sejak lahir manusia
sudah memiliki pengetahuan dan gagasan di dalam akalnya. Oleh karena itu,
Chomsky tidak mendukung pendapat Behavioris yang menyatakan bahwa bahasa
diperoleh dengan proses rangsang-tanggap. Bantahan Chomsky terhadap faham
behaviorisme ini terkenal pada tahun 1959 dalam artikelnya sebagai kritikan
atas tulisan B.F Skinner tahun 1957 tentang
verbal behavior. Chomsky menyatakan bahwa behavioris tidak akan
mampu mencapai hakikat bahasa manusia bahkan unsur luarnya pun tidak dapat
dicapainya.[3]
Menurut Chomsky, salah satu tujuan
penelitian bahasa adalah menyusun tata bahasa dari bahasa tertentu. Bahasa
merupakan kumpulan kalimat yang terdiri atas deretan bunyi yang mempunyai
makna. Oleh karena itu, tata bahasa harus menggambarkan hubungan bunyi dan arti
dalam bentuk kaidah-kaidah yang tepat dan jelas. Tata bahasa itu harus memenuhi
dua syarat:
1.
Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa harus
dapat diterima oleh pemakai bahasa sebagai kalimat yang wajar dan tidak
dibuat-buat.
2.
Tata bahasa harus berbentuk sedemikian rupa
sehingga istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu
saja.
Sejalan dengan konsep langue dan
parole dari de Saussure, Chomsky membedakan antara competence (kemampuan)
dan performance (penggunaan bahasa). Competence merupakan
pengetahuan seseorang tentang bahasa dan kaidah-kaidahnya, sedangkan performance
merupakan keterampilan seseorang menggunakan bahasa. Objek pembahasan
Chomsky dalam aliran TGG ini adalah competence yang mengandung sistem kaidah yang dipakai si
pembicara untuk membuat kalimat yang diucapkannya. Jadi, tata bahasa harus
mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa agar mengerti kalimat yang
tidak terbatas jumlahnya, bahkan sebgian besarnya belum pernah didengarnya.
Setiap orang memiliki aspek kreatif bahasa karena pada saat mengucapkan
suatu kalimat, kalimat baru telah dibuat dan berbeda dari sekian banyak kalimat
yang pernah diucapkan. Dengan kata lain, sebuah tata bahasa harus terdiri atas
sekelompok kaidah yang tertentu jumlahnya, tetapi dapat menghasilkan kalimat
yang tidak terbatas jumlahnya.
Ia memperkenalkan tata bahasa
transformasi (generatif) yang dapat menjelaskan struktur bahasa secara
eksplisit dan telliti melalui kaidah "tulis kembali" (rewrite).
Sebuah kalimat ia rumuskan menjadi sentence (S), noun Pharase (NP),
dan verb phrase (VP) sebagai kalimat inti (kernel sentence) yang
dapat diperluas melalui transformasi.[4]
Tata bahasa semua bahasa terdiri dari tiga
komponen, yaitu:
1.
Komponen Sintaksis
2.
Komponen Semantik
3.
Komponen Fonologis
Komponen sintaksis merupakan pusat tata bahasa karena di
dalamnya terdapat komponen dasar dan transformasional. Komponen dasar terdiri
dari subkomponen kategorial dan leksikon tertentu. kaidah subkategorisasi yang
menggambarkan aspek kreativitas bahasa, menghasilkan pola-pola kalimat dasar
dan deskripsi struktur untuk setiap kalimat yang disebut penanda frase
dasar. Semuanya ini merupakan unsur-unsur struktur batin (deep
structure). Leksikon merupakan daftar morfem beserta keterangan yang
diperlukan untuk interpretasi semantik, sintaksis, dan fonologi.[5]
Di dalam bukunya, Aspectc
of the Theory of Syntax, ia memperkenalkan konsep struktur lahir (surface
structure) dan struktur batin (deep structure). Strukur lahir sebuah kalimat merupakan
hasil transformasi dari strukur batinnya. Struktur lahir yang sama belum tentu
mengandung struktur batin yang sama pula. Struktur lahir kalimat John
is eager please dan kalimat John is easy to please adalah sama,
tetapi struktur batinnya berbeda. John dalam kalimat pertama adalah
subjek, sedangkan di dalam kalimat ke dua, John adalah objek. Sebaliknya, dalam kalimat struktur lahir
yang berbeda dapat saja terkandung struktur batin yang sama. Struktur lahir
kalimat John hit Jack berbeda dengan struktur lahir kalimat Jack was
hit by John. Tetapi, kedua kalimat tersebut mempunyai struktur batin yang
sama karena John adalah pelaku
dan Jack adalah objek.
Tata bahasa transformasi berusaha
memahami akal manusia melalui I-language (Internal, individual
language) yang terpisah dari E-Lamguage (external, extensional language)
yang ada di dalamotak seorang penutur asli. Bagian dari pengetahuan ini, yang
berupa seperangkat prinsip bahasa yang dikenal sebagai Tata Bahasa Semesta (Universal
Grammar), diyakini sudah ada pada akal manusia sejak lahir.[6]
Komponen semantik memberikan interpretasi semantik pada
deretan unsur yang dihasilkan oleh subkomponen dasar. Arti sebuah morfem dapat
digambarkan dengan memberikan unsur makna atau ciri semantik yang membentuk
arti morfem tersebut.
Komponen
fonologi memberikan
interpretasi fonologi pada deretan unsur yang dihasilkan oleh kaidah
transformasi. Dengan memakai kaidah fonologi deretan unsur tadi dapat
diucapkan.[7
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. Linguistik Umum.
Jakarta: Rineka Cipta, 2007.
Strazny,
Philip, ed. Enclyclopedia of Linguistics. New York : Taylor&Francis Books, Inc.,
2005
Kushartani, dkk, Pesona Bahasa: Langkah Awal
Memahami Linguistik. Jakarta :Gramedia
Pustaka Utama, 2009
[2] Kushartani, dkk, Pesona Bahasa: Langkah Awal
Memahami Linguistik(Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 216
[3] Philip Strazny, ed., Enclyclopedia
of Linguistics( New York :
Taylor&Francis Books, Inc. 2005), h. 205
[4] Kushartani, dkk, Pesona
Bahasa...h. 216
[5] Abdul Chaer, Linguistik
Umum...h. 364-367
[6] Kushartani, dkk, Pesona
Bahasa...h. 216-217
[7] Abdul Chaer, Linguistik
Umum...h.368

thanks k' postinganya
BalasHapusizin untuk referensi