ROMEO DAN JULIET DI ATAS PENTAS MESIR



ROMEO DAN JULIET  DI ATAS PENTAS MESIR

DOWNLOAD VERSI MS WORD DI SINI

A.      SEKILAS CERITA ROMEO AND JULIET DALAM VERSI SHAKESPEARE
Permusuhan antara keluarga besar Montague –sebagai pihak Romeo—dan keluarga Capulet –sebagai pihak Julia—pada awalnya tidak dapat merintangi tumbuhnya perasaan cinta kedua sejoli itu. Romeo dan Julia pun bersepakat mengikat ikrar dalam tali perkawinan yang disahkan oleh pendeta Lorenzo. Tetapi, tewasnya kerabat dan sahabat Romeo, Mercutio oleh Tybalt, kerabat keluarga Capulet membuka kembali permusuhan antarkeluarga itu. Romeo terlibat dalam perkelahian berdarah. Pedangnya menewaskan Tybalt. Untuk menyelamatkan Romeo dari hukuman mati, pendeta Lorenzo menyuruhnya pergi dari Verona dan tinggal di Mantua.
Sementara itu duka cita Julia atas perpisahan dengan Romeo, dilihat oleh Capulet dan istrinya sebagai kesedihan atas kematian Tybalt. Maka, ketika datang Paris, pemuda bangsawan melamar Julia, keluarga Capulet menyambutnya bahagia. Hari perkawinan pun kemudian ditetapkan.
Julia tentu saja menolak rencana kedua orang tuanya menjodohkan dengan Paris. Tetapi, kesepakatan telah dibuat, hari perkawinan telah ditetapkan. Julia tak dapat berbuat apa-apa. Ia pun mendatangi pendeta Lorenzo. Untuk menyelamatkan kesucian cinta Romeo—Julia, pendeta Lorenzo merancang rencana. Disuruhlah Julia minum racun menjelang pesta perkawinan dengan Paris dilaksanakan. Menurut Lorenzo, jika racun itu diminum, Julia akan terbujur kaku seperti orang mati. Dua hari kemudian, ia akan siuman kembali. Pada saat itulah, Romeo datang dan membawa Julia pergi meninggalkan Verona.
Pesta perkawinan dengan Paris memang gagal. Julia dianggap mati bunuh diri karena minum racun. Jasadnya dimasukkan dalam peti mati dan kemudian disimpan di tempat pemakaman. Tetapi rencana tinggal rencana. Kabar yang diterima Romeo bukanlah skenario yang disusun pendeta Lorenzo, melainkan kabar tentang kematian Julia. Maka, Romeo segera datang ke pemakaman tempat Julia disemayamkan. Di sana, ia jumpa Paris. Perkelahian pun tak terhindarkan. Paris tewas. Romeo yang sudah putus pengharapannya, segera minum racun yang telah disiapkannya. Ia pun mati.
Beberapa saat setelah kematian Romeo, Julia siuman. Betapa kaget ketika dilihatnya Paris mati bersimbah darah dan Romeo terbujur kaku dengan tangan masih memegang botol racun. Menyadari segalanya telah berakhir, Julia mencabut belati Romeo dan ditusukkannya ke dadanya sendiri. Julia pun tewas seketika.
Tidak lama kemudian datanglah pendeta Lorenzo, Pangeran, keluarga Capulet dan keluarga Montague. Pendeta Lorenzo lalu menjelaskan duduk perkaranya. Tetapi, semua sudah terlambat. Penyesalan tak berguna lagi. Kedua keluarga –Capulet dan Montague—yang selama ini bermusuhan, menyadari kekeliruannya. Mereka pun bersepakat untuk mencipakan perdamaian. [1]

B.       PROSES AWAL MASUKNYA ROMEO AND JULIET  KE MESIR
Novel Romeo and Juliet  merupakan adikarya sastrawan Italia, William Shakespeare. Novel berbahasa Italia ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa , seperti Perancis yang dilakukan oleh John Francois Dessie, Rusia oleh Alexander Anikst, Belanda, dan India. Namun, menurut Dr. Mushthafa Badwy, isi cerita Romeo and Juliet pada semua hasil penerjemahan tersebut mengalami banyak perubahan. Tidak terkecuali, hasil penerjemahan ke dalam bahasa Arab yang di antaranya dilakukan oleh Najib Haddâd dan Nicola Rizqullah.
Najib Haddâd mengalihbahasakan Romeo and Juliet ke dalam bahasa Arab dengan bersumber pada teks berbahasa Perancis, karya John Francois Dessie. Kualitas penerjemahan John Francois tidak begitu mendalam sehingga dianggap wajar jika dalam penerjemahannya ke dalam bahasa Arab tidak bersumber pada teks berbahasa Inggris.
Sedangkan Nicola Rizqullah muncul belakangan dengan menggunakan sumber teks berbahasa Inggris.
C.      KONDISI HASIL PENERJEMAHAN ROMEO AND JULIET KE DALAM BAHASA ARAB
Hasil penerjemahan Romeo and Juliet ke dalam Bahasa Arab memiliki beberapa karakteristik berikut ini:
1.      Dalam versi terjemahan Haddâd, pertama, awal cerita sangat berbeda dengan awal cerita pada teks asli Shakespeare. Dalam versi terjemahan, Haddâd memulainya dengan kasidah Hub ‘Ashmâ’ yang ber-bahr thawîl. Kasidah ini menggambarkan “rengekan” Romeo tentang kekasihnya. Ia menyerupakan Juliet seperti bulan yang menyinari gelapnya malam. Sedangkan dalam versi aslinya, cerita Romeo and Juliet dimulai dengan perselisihan di antara dua keluarga besar bangsawan, yaitu antara keluarga Romeo, Montague dengan keluarga Juliet, Capulet. Kedua, menghilangkan tokoh Pendeta Lorenzo yang berusaha menyatukan Romeo and Juliet.
2.      Tidak menerjemahkan puisi yang ada pada teks asli. Hal ini terjadi karena beberapa sebab:
a.       Kesulitan dalam penerjemahannya ke dalam bahasa Arab yang berbentuk syair karena terkungkung oleh wazan dan qafiyah.
b.      Tuntutan sutradara drama yang menganggap cerita dalam bentuk prosa lebih mudah menarik penonton.
Kekurangan ini diungkapkan oleh Ibrahim Abd al-Qâdir al-Mâzinî yang diutarakan kepada Khalil Mutran karena hasil penerjemahannya sedikit pun tidak mengandung puisi.
D.      PERKEMBANGAN DRAMA ROMEO AND JULIET (SYUHADÂ’ AL-GHARÂM) DI MESIR
Dalam tiga dasawarsa awal di abad ke-20, sebagian besar drama-drama karya Shakespeare tersebar luas di Mesir. Drama-drama tersebut antara lain Romeo and Juliet atau dalam versi Arab berjudul Syuhadâ’ al-Gharâm (Martir Cinta) karya Najib al-Haddâd, Hamlet, dan Othello.
Menurut Dr. Mushthafa Badawî, rakyat Mesir pertama kali dapat mengenal cerita Romeo and Juliet  melalui media drama, bukan media tulis.
Cerita Romeo and Juliet yang disuguhkan oleh penerjemah Najib Haddâd berimplikasi pada cerita yang dipentaskan di dalam drama. Tradisi yang diwariskan oleh komunitas drama pertama, yaitu grup Salamah Hijazi, terus bertahan sampai saat ini. Ciri khusus pementasan drama yang mereka tampilkan adalah iringan-iringan musik dan nyanyian serta selingan cerita lucu selama drama berlangsung. Meskipun pada awalnya dikritik oleh George Afandi Abyadh dengan alasan iringan musik dan nyanyian akan merusak suasana tragedi yang terdapat di dalam cerita Romeo and Juliet, namun, pada suatu kesempatan ia terpengaruh dengan tradisi mayoritas komunitas drama di Mesir. Hal ini terjadi pada pementasan seni drama oleh grupnya senidiri di Teater Opera Khedivial, Kairo dengan menghadirkan Abdullah Afandi Ukkasyah dan Burhanuddin Bek. Ia mementaskan beberapa judul drama di antaranya Romeo and Juliet, Louis 11, dan Thariq bin Ziyad.
Karya Haddâd  berpengaruh besar bagi komunitas-komunitas seni drama di Mesir. Di antara komunitas-komunitas seni drama itu antara lain sebagai berikut:
1.         Komunitas Seni Drama Salamah Hijazî.
Komunitas ini berada di bawah pengawasan Iskandar Farah selaku direktur al-Jawq al-‘Arabî.  Drama yang mereka tampilakn berupa drama musikal dengan cerita Syuhadâ’ al-Gharâm yang bertumpu pada karya Najib Haddâd.  Komunitas Salamah merupakan pihak yang paling berpengaruh dalam penyebaran drama Syuhadâ’ al-Gharâm.
Berikut ini pihak-pihak yang terlibat dalam pementasan drama Syuhadâ’ al-Gharâm:
a.       Melia Dian sebagai pemeran Juliet.
b.      Salamah Hijazî menyanyikan kasidah di awal pementasan drama. Kemudian di akhir episode, dalam monolognya, ia suka menyanyikan lagu yang berjudul “fatâ’ al-‘Ashr”, iblîs wa al-Syâ‘ir, dan wa in Kuntu fî al-Jaysy.
c.       Paulus Solban mengiringi Salamah.
d.      Tauhîdah al-Mughniyyah mengiringi Salamah.
e.       Dan lain-lain.
2.         Komunitas Seni Drama al-Taraqqî al-Adabî
Komnuitas ini dipimpin oleh Ibrahim Ahmad al-Iskandarî. Mereka pernah mementaskan drama Syuhadâ’ al-Gharâm di Teater Aden, Iskandariyah.
3.         Komunitas Seni Drama Munîrah al-Mahdiyyah
Komunitas ini diketuai oleh Munirah al-Mahdiyyah. Mereka pernah mementaskan drama Syuhadâ’ al-Gharâm di Kasino Corozal. Munirah menampilkan nyanyian yang memukau penonton dan diakhiri dengan adegan humor oleh Muhamad Afandi Naji.
E.       KRITIKAN-KRITIKAN ATAS KUALITAS PEMENTASAN DRAMA ROMEO AND JULIET DI MESIR
Di antara pengkritik drama di Mesir saat itu adalah George Afandi Abyadh. Ia menyayangkan atas kondisi pementasan drama Romeo and Juliet (Syuhadâ’ al-Gharâm) dengan beberapa alasan berikut ini:
1.      Adanya selingan senda gurau yang justru melemahkan suasana tragis yang terdapat di dalam cerita.
2.      Terdapat ketidaksesuaian isi cerita drama yang ditampilkan dengan isi cerita dalam versi aslinya, karya Shakespeare.
Karena alasan tersebut, ia berkeinginan untuk menghentikan tradisi drama tersebut. Namun, pada akhirnya, ia termasuk salah satu pemain drama yang terbawa arus tradisi yang diwariskan oleh Salamah Hijazi.
Selain George Abyadh, terdapat kritikus drama lainnya yang mengomentari alasan Salamah atas pengiringan musik dan nyanyian selama drama berlangsung, yaitu agar pementasan drama dapat sampai dan dinikmati oleh penonton. Ia membantahnya bahwa tidak semua novel yang dipentaskan di atas panggung itu layak diiringi musik dan nyanyian, bahkan dapat melemahkan unsur-unsur suasana tragis di dalam cerita.
F.       KEUNGGULAN PEMENTASAN DRAMA ROMEO AND JULIET (SYUHADÂ AL-GHARÂM) DI MESIR
Meskipun menghadapi banyak kritikan dari berbagai pihak, namun kondisi drama Romeo and Juliet yang dipentaskan di Mesir memiliki keunggulan sebagai berikut:
a.         Melahirkan generasi baru dalam bermain peran.
Salamah Hijazi berusaha mengisi kekosongan usaha bermain peran di Mesir saat itu. Sehingga, muncullah banyak lembaga resmi yang khusus membidangi masalah main peran. Pada tahun 1917, George Afandi Abyadh merintis pendirian sekolah khusus bidang main peran. Sekolah tersebut dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kelas pertama bagi para pemeran dari kalangan pria, kelas ke dua bagi pemeran pihak wanita, dan kelas tiga bagi pembaca naskah.
Akhirnya, terjadilah sebuah fenomena luar biasa sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar Mesir, al-Afkâr, sebuah grup pemain drama terlatih dari kalangan anak-anak berusia 6 tahun ke bawah yang berjumlah 25 orang, baik aktris maupun aktor,  telah terbentuk.
Mereka bermain bersama Salamah Hijazi dan George Abyadh di Teater Inggris dalam pementasan drama Romeo and Juliet. Anak-anak pertama kali tampil dengan memainkan adegan monolog yang sangat sesuai dengan keinginan Shakespeare.
b.        Berperan aktif dalam usaha mencerdaskan jiwa harmoni di barisan umat Islam dan Kristen.
Komunitas seni drama, baik yang dipimpin oleh Salamah Hijazi maupun Munirah al-Mahdiyyah, sering mementaskan drama dengan tujuan amal untuk menggalang dana. Di antaranya adalah pementasan drama untuk menggalang dana bagi Asosiasi Katolik di Tanta.
c.         Membuka pintu bagi Barat untuk menunjukkan karya seni mereka, khususnya seni drama. Italia, Perancis, dan Inggris meruapakan negara-negara barat yang pernah mementaskan seni drama mereka di Mesir.
d.        Melahirkan banyak inovasi dalam dunia drama antara lain sebagai berikut:
1)        Menjadikan iringan musik dan nyanyian sebagai sebuah bagian dari drama yang tidak dapat dilepaskan.
Muhammad Taimur, sebagaimana dikutip di dalam koran al-Minbar, menyatakan bahwa Salamah Hijazi mampu memasukkan musik dan nyanyian tanpa mengganggu unsur-unsur tragedi sebuah drama, bahkan sangat tepat dalam penempatannya.
2)        Menghadirkan selingan adegan humor (komedi) dalam episode–episode tertentu.
Adegan komedi ini biasanya dihadirkan pada episode terakhir setelah pementasan drama tragedi usai. Sebelum tahun 1914, drama komedi menyatu dengan drama tragedi. Namun, pasca 1914, drama komedi berdiri sendiri atas prakarsa ‘Aziz ‘Id yang beranggotakan Husain Riyadh, Steven, dan Husain Fayiq. Namun, eksistensinya tidak bertahan lama, karena Aziz Id ikut bergabung ke dalam komunitas seni drama di bawah pimpinan Ukkasyah.
3)        Menggunakan alat sinematografi selama drama berlangsung.
4)        Kreatif dalam pengembangan cerita.
Salamah Hijazi, meskipun dianggap melampaui batas kewajaran, banyak memasukkan cerita-cerita yang tidak terdapat di dalam sumber asli cerita Romeo and Juliet. Bahkan, akhir cerita tragis (sad ending) yang menimpa Romeo dan Juliet berubah menjadi happy ending.
5)        Wanita memainkan peran pria, sedangkan peran wanita digantikan oleh anak-anak.
Taufik Afandi Farah, saudara kandung Iskandar Farah, menjadi kordinator pementasan drama Syuhadâ’ al-Gharâm di teater Champs Elysees. Personil perempuan dari kelompok Munirah al-Mahdiyyah dan Fatimah Rusydi memainkan peran laki-laki.
e.         Menyebarkan pengaruhnya ke luar Mesir, seperti Libia. Salamah berkombinasi dengan Abdullah ‘Ukkasyah dalam pementasan drama Syuhadâ’ al-Gharâm di Talian, Tripoli.
f.         Membuat drama melekat di dalam hati rakyat Mesir . [2]

DAFTAR PUSTAKA
Syawqi, Ahmad Ridhwan. Madkhal ilâ al-Dars al-Adabî al-Muqâran. Beirut: Dâr al-Ulûm al-‘Àrabiyyah, 1990.
Mahayana, Maman S. Sastra Bandingan: Pintu Masuk Kajian Budaya Studi Kasus Romeo Dan Julia, Sonezaki Shinju, Uda Dan Dara, artikel diakses pada 10 November 2011 dari http://www.fib.ui.ac.id/index.php?view=category&id=39:artikelilmiah&option=com_content&Itemid=122&lang= Sastra Bandingan: Pintu Masuk Kajian Budaya. html
 



[1]Maman S. Mahayana, Sastra Bandingan: Pintu Masuk Kajian Budaya
Studi Kasus Romeo Dan Julia, Sonezaki Shinju, Uda Dan Dara,
artikel diakses pada 10 November 2011 dari http://www.fib.ui.ac.id/index.php?view=category&id=39:artikelilmiah&option=com_content&Itemid=122&lang= Sastra Bandingan: Pintu Masuk Kajian Budaya. html
[2]Ahmad Ridhwan Syawqi,  Madkhal ilâ al-Dars al-Adabî al-Muqâran (Beirut: Dâr al-Ulûm al-‘Àrabiyyah, 1990), h. 125-141.

Komentar