BAB I
PENDAHULUAN
Dalam sejarah pemikiran Islam banyak sekali dijumpai tokoh-tokoh yang memiliki keistimewaan dan anugerah. Allah Swt menganugerahi mereka kemampuan khusus berupa kecerdasan luar biasa, hafalan yang kuat, ketelitian, dan kepekaan dalam merasakan segala sesuatu. Selain itu, mereka juga dianugerahi analisa yang tajam, hikmah yang kokoh, dan keikhlasan dalam beragama hanya mengharapkan ridha Allah Swt dan kehidupan yang penuh kenikmatan setelah mati.
Imam al-Syâfi‘î adalah salah satu dari mereka. Banyak orang menimba ilmu darinya lalu mengajarkannya. Seharian penuh beliau habiskan untuk mengajarkan ilmu. Aktivitasnya dimulai setelah menunaikan Shalat Shubuh yang kemudian ia lanjutkan dengan mengajar para penggiat al-Qur’an dan ilmunya. Setelah matahari terbit, kembali beliau dikelilingi oleh rombongan pelajar yang ingin mempelajari hadis. Ketika matahari sepenggalahan, mereka pulang dan kembali berdatangan para pelajar yang ingin mengikuti diskusi umum. Ketika waktu Dhuha tiba, beliau menyambut para pelajar yang ingin mempelajari bahasa Arab, ilmu ‘arûdh, dan syair, hingga mendekati pertengahan siang.
Imam al-Syâfi‘î banyak mewariskan peninggalan-peninggalan berharga yang dijadikan perbendaharaan Islam. Hal ini tercermin pada pembukuan ilmu yang dilakukan oleh murid-murid beliau sepeninggalnya. Ilmu yang mereka dapat dari Imam al-Syâfi‘î kemudian sebagiannya mereka bukukan. Sebagian lagi, menulis buku-buku baru dengan menukil perkataannya, baik seluruhnya maupun sebagiannya saja. Setiap kata yang terucap dari lidah Imam al-Syâfi‘î tidak jarang mereka jadikan dalil bagi masalah yang sedang mereka bahas. Susunan katanya sangat indah sehingga menambah kenikmatan tersendiri bagi pembacanya. Oleh karena itu, banyak kata-kata mutiara yang mereka nukil dari Imam al-Syâfi‘î terutama dalam bentuk syair. Syair bagi orang Arab sangat tinggi kedudukannya dan sangat besar peranannya. Dengan syair, mereka dapat memelihara kehidupan mereka dan mempertahankan kehormatannya. Oleh karena itu, kata-kata mutiara, khususnya dalam masalah moral, sangatlah sesuai dan lebih mengena ke relung hati pendengar dan pembaca, jika dituangkan dalam bentuk syair yang merupakan kebanggaan orang Arab.
Terkait hal tersebut di atas, seorang mahasiswa diploma studi bahasa dan sastra Arab, Na‘ìm Zarzûr, telah mengumpulkan dan menjelaskan makna-makna syair moral Imam al-Syâfi‘î yang tersebar dalam berbagai kitab. Beliau tuangkan dalam satu buah buku yang berjudul Dîwân al-Imâm al-Syâfi‘î. Syair-syair yang ada di dalam kitab ini cukup mewakili dari sekian banyak syair beliau yang tersebar dalam berbagai kitab untuk dianalisis, baik unsur lahir maupun batin. Dr. Mufid Qamîhah, salah seorang dosen di Universitas Libanon yang menjadi pengantar buku Dîwân ini, menyatakan bahwa Imam al-Syâfi‘î berusaha untuk merehabilitasi kondisi syair-syair pada masanya yang penuh kefasikan, hawa nafsu, dan kemaksiatan. Oleh sebab itu, beliau gencar membuat syair-syair yang bernafaskan Islam, sarat dengan ajaran-ajaran Islam yang mendorong manusia agar semangat dalam berbuat kebajikan dan meninggalkan serta menjauhi perbuatan-perbuatan buruk.
Makalah ini akan memaparkan semua permasalahan di atas yang meliputi perjalanan hidup Imam al-Syâfi‘î, karya-karyanya, faktor-faktor beliau memfokuskan syair sebagai media penyampai ajaran-ajaran Islam, corak sastra, dan hal-hal terkait lainnya. Penulis akan memfokuskan pembahasannya pada analisis 16 bait syair yang terhimpun dalam 6 buah tema berdasarkan Kitab Dîwân al-Syâfi‘î.
Semoga kita mampu meraih apa yang diungkapkan oleh Imam al-Syâfi‘î:
“...Barangsiapa mempelajari bahasa, maka akan halus budi pekertinya”
BAB II
PEMBAHASAN
A. SUASANA KEHIDUPAN DI MASA AL-SYÂFI‘Î
1. Kehidupan Politik
a. Politik Dalam Negeri
Al-Imam al-Syâfi‘î hidup pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Pada awal periode Khalifah al-‘Abbâs, situasi politik dalam negeri sangat mencolok perbedaannya dengan periode kekhalifahan Bani Umayyah. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, banyak orang-orang Arab yang memegang jabatan penting dalam pemerintahan. Sedangkan pada masa Dinasti Abbasiyah, jabatan-jabatan strategis banyak diduduki oleh orang-orang Persia. Banyaknya orang-orang Persia yang memainkan peranan penting dalam pemerintahan, praktis menyebabkan kekuasaan mutlak ada di tangan mereka. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari dukungan politik mereka, khususnya Khurasan, yang telah berjasa menyukseskan Bani ‘Abbâs melenggang ke kursi kekhalifahan.
Kekuasaan yang berhasil mereka capai selama ini ternyata telah menimbulkan bahaya yang tidak kecil. Para ahli sejarah mencatat, karakteristik kekhalifahan islam pada masa ini adalah adanya kekuatan Persia yang dominan dan lemahnya pengaruh bangsa Arab. Bahkan pengaruh mereka semakin kuat pada masa kekhalifahan al-Ma‘mun. Hal ini terjadi karena adanya sifat fanatisme orang-orang Arab terhadap al-Amin sehingga kemenangan al-Ma‘mun juga dianggap sebagai kemenangan Persia.
Pada tahun kelahiran al-Syâfi‘î (150 H), terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh seorang ulama yang bernama Sis. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh Hazim bin Huzaimah.
Pada tahun 161 H, masa kekhalifahan al-Mahdi (158-169 H), Hakim al-Muqni‘ memberontak di Khurasan. Ia menyebarkan faham reinkarnasi da telah menyesatkan banyak orang. Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Sa‘id al-Khursyi. Di Syria, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Abdullah bin Marwan bin Muhamad al-Umawi dan berhasil dipadamkan. Pada tahun 162 H, Abdussalam bin Hisyam al-Yasykurî beserta para pengikutnya melakukan makar di Jazirah Arab, namun dapat digagalkan.
Khalifah al-Hadi yan memerintah tahun 169-170 H, sering melakukan peperangan melawan orang-orang Ateis. Banyak dari mereka yang terbunuh diantaranya Yazdan bin Bazdan dari Nahrawan.
Pada masa kekhalifahan Harun al-Rasyîd (170-193H), situasi politik dalam negeri sangat kondusif dan stabil. Namun, terjadi beberapa pergolakan besar yang cukup mengganggu stabilitas politk, seperti pemberontakan yang dipimpin oleh al-Walid bin Tharif al-Syaibani pada tahun 178 H. Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Yazid bin Mazid al-Syaibani. Selain itu, di Afrika terjadi pertempuran sengit yang dikobarkan oleh kabilah-kabilah Barbar. Mereka menentang kekuasaan Bani ‘Abbas dan ingin menjatuhkannya. Upaya ini berlangsung selama 2 tahun, yaitu dari 178-181 H. Peristiwa ini dapat diselesaikan oleh Hartsamah bin A‘yun dengan sempurna
Sistem pemerintahan pada masa ini mirip dengan sistem yang diterapkan orang-orang Persia pada masa kekuasaan Raja Sasan. Hal ini merupakan akibat dari ketertarikan Bani ‘Abbas terhadap model sistem pemerintahan Persia dan sebagai upaya untuk melindungi orang-orang Persia.
Adapun kebijakan politik yang menyangkut bidang keilmuan dan budaya, pemerintah tergolong sangat baik. Banyak kebijakan pemerintah yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan karena khalifah sendiri dikenal dekat dengan para ulama terutama Khalifah Harun al-Rasyid yang berhasil menjadikan negara Islam sebagai negara ideal yang banyak meraih kesuksesan dalam berbagai bidang.
b. Politik Luar Negeri
Di masa al-Syâfi‘ hidup, banyak Daulah Islamiyah hanya sedikit melakukan ekspansi. Bahkan kekuasaan Dinasti ‘Abbasiyyah mengalami penyusutan, terutama di beberapa wilayah yang jauh dari pantauan pusat pemerintahan yang ada di Baghdad. Seiring dengan rapuhnya kekuasaan Dinasti Abbasiyyah, berdirilah kekuasaan Dinasti Adarisah tahun 172 H di ujung Maroko. Sementara pada tahun 184 H, berdiri pula Dinasti Aghalibah di Tunisia.
Sementara pada masa yang sama, peperangan antara bangsa Arab dengan Byzantium menjadipertempuran yang sangat tragis. mAsing-masing pasukan ingin menghancurkan, meusak, membunuh, dan menjarah harta bneda. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan keadaan pada masa kekuasaan Bani Umayyah. Mereka mempunyai perjanjian tertulis yang menegaskan bahwa peperangan melawan Byzantium hanya untuk membebaskan Konstantinopel.
Para Khalifah Bani ‘Abbas kurang memperhatikan masalah perluasan wilayah kekuasaan. Mereka hanya melakukan ekspansi keci-kecilan ke India dan Shindi. Hal ii disebabkan, antara lin mewabahnya sikap fanatisme dan ketidakmampuan negar membiayai proyek-proyek besar yang sanagt bermanfaat. Sehingga upaya ekspansi hanya mampu dilkaukan di India dan Sindi saja, yaitu pada masa Khalifah al-Hadi dan al-Ma’mun.
Ada beberpa kemungkinan lemahnya politik luar negeri pada masa itu, antara lain:
1) Para khalifah tidak ingin menghadapi bahaya besar di kemudian hari yang timbul akibat adanya ekspansi.
2) Kuatnya pengaruh Persia, namun ambisinya tidak sekuat bangsa Arab dalam melakukan ekspansi.
3) Sebagian khalifah terlalu memberikan perhatian besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan.
2. Kondisi Sosial
Wilayah kekuasaan Islam pada masa al-Syâfi‘î terbentang luas, mulai dari Andalusia Barat sampai India di Timur. Di bawah lindungan Daulah Islamiyyah, berbagai umat manusia hidup berdampingan secara damai. Mereka mempunyai ciri masing-masing yang berbeda satu sama lainnya, baik dari warna kulit, postur tubuh, sifat maupun karakter lainnya. Bahkan juga memiliki tradisi, kebudayaan, dan kecenderungan politik yang tidak sama, karena berasaldari tempat yang berbeda-beda. Ada yang keturunan Arab, Persia, maupun India. Aliran keagamaannya pun berbeda-beda. Ada yang Sunni da ada pula yang Syiah, bahkan ada juga orang kafir yang taat pajak (ahl al-dzimmah). Status sosialnya pun beragam, ada yang merdeka dan ada pula yang masih dalam status budak.
Adanya kebergaman yang sangat kompleks memang terkadang dapat menimbulkan konflik, seperti yang pernah terjadi antara bangsa Arab dan Persia. Pada masa ini, pengaruh bangsa Persia cukup dominan akibat adanya dukungan dari penguasa. Karena itu, dengan sendirinya tradisi dan budaya Persia menjadi lekat dalam gaya hidup Dinasti Abbasiyyah, sehingga kehiudpan masyarakat Islam seperti kehidupan masyarakat Persia yang mirip Arab. Para penguasa Bani ‘Abbas mulai terpengaruh dengan gaya hidup mewah dan arogan.
3. Kondisi Budaya
Budaya Persia, India, dan Yunani merupakan tiga budaya maju yang cukup berpengaruh pada masa Dinasti Abbasiyyah ini. Bangsa Persia dikenal sangat berpengalaman dalam segi menajemen pemerintahan. Sementara orang Arab hanya dikenal sebagai orang yan pandai berdiplomasi. Bangsa India dikenal sebagai ahli matematika, perbintangan, kedokteran, dan sebaginya. Bangsa India memiliki filsafat sendiri yang berbeda dengan filsafat Yunani. Banga Yunani dikenal sebagai filosof yang telah melahirkan banyak pemikiran dalam berbagai bidang.
Kehidupan sosial yang damai memberikan dampak positif bagi kemajuan ilmu pengetahuan, kesusastraan, dan bidang-bidang penting lainnya. Karena itu, para khalifah, pejabat, dan para pembesar negara memberikan fasilitas yang baik kepada para ulama, ahli fikih, sastrawan, penulis, penyanyi, dan tokoh masyarakat.
Majelis-majelis pengajian ditata layaknya tempat konser musik yang dipenuhi dengan alat-alat musik. Bahkan di sela-sela pengajian, diisi dengan alunan musik, deklamasi puisi, dan cerita-cerita menarik.
Gerakan penerjemahan besar-besaran ke dalam bahas Arab merupakan revolusi pemikiran, budaya, dan bahasa paling spektakuler dalam sejarah peradaban manusia. Penerjemahan buku-buku Yunani memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Islam. Interaksi kaum muslim dengan filsafat memunculkan adanya sikap skeptis dalam maslah akidah. Karena itulah, muncul banyak aliran teologi Islam.
4. Kondisi Ekonomi
Dalam rangka memajukan ekonomi rakyat, para khalifah sangat memperhatikan masalah pertanian. Mereka berusaha meningkatkan efektivitas pertanian dengan cara membangun sistem irigasi, memperdalam sungai, dan saluran-saluran air.
Pemerintah menyadari, kemajuan sektor industri merupakan pendorong laju perekonomian negara. Mereka melakukan upaya eksplorasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, khususnya pertambangan, seperti besi, tembaga, minyak tanah, dan sebagainya.
Pada tahun 161 H, Khalifah al-Mahdi memerintahkan agar setiap rumah dijadikan sebagai tempat produksi, memperbarui batu-batu tanda pembatas wilayah, menggali sumur, dan membangun pabrik.
Dampak positif dari kemajuan sektor perdagangan, pertanian, dan industri adalah terciptanya lapangan kerja yang terbuka.
B. RIWAYAT HIDUP AL-SYÂFI‘Î
1. Kelahiran dan Asal Usul
Na’im Zarzur, mengatakan bahwa al-Syâfi‘î adalah seorang penghulu dalam bidang agama, fikih, ushul fikih, hadits, bahasa, sastra, syair, dan kritik sastra. Imam al-Syâfi‘î memiliki nama yang cukup panjang. Nama lengkap al-Syâfi‘î adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbâs bin Utsmân bin Syâfi‘ bin Sâ’ib bin Ubaid bin Yaîd bin Hâsyim bin ‘Abd al-Muthallib bin ‘Abd Manâf bin Qushay bin Kilâb bin Murrah bin Ka‘ab bin Lu’ay bin Ghâlib bin Fihr bin Mâlik bin al-Nadhar bin al-Kinânah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin al-Yâs bin Mudhar bin Nazzâr bin Ma‘ad bin ‘Adnân bin Udd bin Udad. Nasab beliau bertemu nasab Rasulullah Saw di Abdul Muthallib. Pencantuman nama nenek moyang merupakan kebiasaan orang Arab dalam penamaan dirinya. Nama aslinya adalah Muhamad, Idris adalah nama ayahnya. Sedangkan nama-nama seperti al-‘Abbâs, Usmân, dan Syâfi‘î adalah nama nenek moyangnya. Ia menamakan dirinya dengan al-Syâfi‘î karena nisbat kepada Syâfi‘î, salah seorang nenek moyangnya yang terkenal. Ibunya berasal dari Azad.
Mengenai kelahirannya, Na’im Zarzur mengatakan bahwa al-Syâfi‘î dilahirkan pada tahun 150 H di Ghazzah. Oleh sebab itu, sebagian orang langsung menyatakan, sang imam telah pergi dan sekarang kembali datang. Beliau di bawa pergi keluarganya ke Mekah ketika berumur 2 tahun..
2. Pendidikan
Nasabnya yang tinggi dan anugerah Allah Swt lainnya berupa akal yang cemerlang dan watak yang baik serta dewasa, telah mendorongnya untuk berakhlak mulia dan menuntut ilmu dalam usia yang relatif muda. Ditambah lagi, kecepatannya dalam menghafal al-Qur’an dan hadis yang ia dengar langsung dari para muhaddits. Dalam belajar, ia sangat mengandalkan pendengarannya. Namun, terkadang ia menulisnya di atas tembikar atau kulit binatang. Ia sampai datang ke sebuah kantor untuk mencari kertas yang sudah tidak terpakai lagi.
Tak hanya itu, meskipun ia hidup di lingkungan orang Arab, namun ia tetap berhasrat untuk menyempurnakan bahasa Arab dan menimbanya dari sumber yang masih asli. Karena itu, ia menempuh perjalanan menuju perkampungan Hudzail dan menetap di sana. Imam al-Syâfi‘î menuturkan, “Saya keluar dari Mekah dan menetap di perkampungan Hudzail untuk mempelajari bahasa Arab dan tabiatnya. Mereka adalah suku Arab yang berbahasa Arab paling fasih. Saya sangat persis dengan mereka saat pergi dan tinggal bersamanya. Ketika saya pulang kembali ke Mekah, saya mulai mendengarkan syair, menceritakan kisah, dan informasi-informasi penting tentang Suku Hudzail.” Di kampung ini, di samping mempelajari bahasa dan sastra Arab, beliau juga mempelajari cara memanah sampai pada tahap sempurna.
Ketika kembali ke Mekah, ia belajar hadis dan fikih. Dalam bidang fikih, ia sangat cepat mempelajarinya sehingga gurunya, Syeikh Muslim bin Khalid al-Zanzi mengizinkannya berfatwa. Di Madinah, ia belajar fikih dan hadis sekaligus kepada Imam Malik. Ia menghafal semua hadis dalam Kitab al-Muwaththa karya Imam Malik yang ia pinjam dari sahabatnya sebelum menemui Imam Malik di Madinah. Ketika al-Syâfi‘î tiba dihadapannya, Imam Malik memiliki firasat terhadapnya setelah melihat wajahnya, lalu berkata, ” Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah Swt. Jauhilah maksiat karena Kamu akan mempunyai kedudukan mulia di antara manusia. Allah Swt telah memancarkan cahaya di hatimu, jangan Kau padamkan dengan perbuatan maksiat.” al-Syâfi‘î menyertai Imam Malik sampai wafat pada tahun 179 H. Saat itu, ia masih berusia 30 tahun.
Selain di Mekah dan Madinah, beliau juga belajar fikih kepada para ulama madzhab Hanafiyyah di Irak. Beliau berguru kepada Muhammad al-Hasan sehinga terjalinlah persahabatan ilmu antara dua tokoh ini. Setelah selesai, ia kembali ke Mekah dan mengajarkan semua ilmunya di Mesjid al-Haram selama 7 tahun. Selama rentang waktu itu, Imam Ahmad bin Hanbal sempat berguru kepadanya.
3. Karya Sastra
Kemampuan Imam Syafi‘i dalam bidang bahasa, sastra, dan syair benar-benar diakui oleh para pakar bahasa dan sastrawan ulung. Sebagaimana kehebatannya dalam bidang fikih, hadis, dan ushul fikih.
Dalam kitab al-Majmû‘, Imam Nawai mengatakan, “Syafi‘i merupakan pakar bahasa Arab dan ilmu nahwu. Ia belajar bahasa Arab selama 20 tahun, lengkap dengan ilmu balaghah dan bahasa Arab fushhâ. Padahal ia sendiri adalah orang Arab, tinggal di Arab, dan bergaul denga orang Arab” Berbicara tentang kehidupan sastra pada masa al-Syâfi‘î berarti kita berbicara tentang kehidupan sastra di masa Dinasti Abbasiyyah. Sebagaimana diketahui bahwa al-Syâfi‘î hidup di masa kejayaan umat Islam melalui tangan Dinasti Abbasiyyah.
Kehidupan sastra di masa al-Syâfi‘î boleh dikatakan puncak kejayaan sastra dunia Arab. Hal ini terjadi karena adanya perhatian penuh dari para penguasa ke arah kemajuan sastra, baik karya sastra yang berupa prosa maupun kaarya sastra yang berupa puisi (syair).
4. Akhir Hayat
Beliau meninggal dunia pada tahun 204 H di Mesir dalam usia 54 tahun dengan didampingi oleh muridnya al-Muzanni.
C. ANALISIS SYAIR-SYAIR MORAL AL-SYÂFI‘Î
1. Aliran dan Fungsi Syair-syair Moral al-Syâfi‘î
Allah Swt telah mengecualikan penyair muslim dari golongan penyair yang tersurat dalam surat al-Syu‘arâ ayat 224-226:
• (الشعراء: 224-226)
“ ...penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah? Mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya!”
Dengan ayat:
...(الشعراء: 227)
“...kecuali penyair-penyair yang beriman dan beramal saleh serta banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman...
Kandungan syair pada masa awal Islam sampai masa awal kekuasaan Dinasti Abbasiyah, kurang terpengaruh dengan nilai-nilai ke-Islam-an. Kalaupun ada, kandungan ajaran-ajaran Islam hanya berkisar pada pernyataan bahwa Nabi Muhamad adalah utusan Allah Swt, pembawa pedang yang terhunus, dan sang pencerah. Setelah berdirinya Kerajaan Dinasti Abbasiyyah, syair-syair mulai sarat dengan nilai-nilai ke-Islam-an. Para zâhid dan pembaharu mengungkapkan semua isi jiwa ke-Islam-an mereka melalui media syair sebagai bentuk perlawanan terhadap para penyair saat itu yang penuh dengan kesesatan dan hawa nafsu.
Di antara para penyair yang zâhid dan pembaharu ini adalah Imam al-Syâfi‘î. Ia memfokuskan semua syairnya untuk menyampaikan ajaran dan nilai-nilai ke-Islam-an. Ia mengajak manusia agar membuat syair sebagai media dakwah Islam yang menunjukkan manusia ke jalan kebenaran.
Syair-syair al-Syâfi‘î tergolong aliran klasik karena cukup memenuhi unsur-unsur dan kaidah sastra terutama syair yang meliputi adanya emosi (العاطفة), imajinasi (الخيال), gagasan atau ide (الفكرة), dan bentuk (الصورة).
2. Struktur Gaya Syair-syair Moral al-Syâfi‘î
a. Aspek Kata
Kata merupakan unsur bahasa yang sangat pokok, baik ucapan maupun tulis. Kata merupakan perwujudan kesatuan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Kata juga merupakan satuan dan unsur bahasa terkecil yang dapat diujarkan dalam bentuk yang bebas.
Herman J. Waluyo mengatakan dalam Teori dan Apresiasi Puisi sebagai berikut:
“Penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata, sebab harus mempertimbangkan makna, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata pada konteks kata lainnya, dan kedudukan kata pada puisi secara keseluruhan. Oleh karena itu, di samping memilih kata yang tepat, penyair juga mempertimbangkan urutan, kekuatan atau daya magis kata. Karena pemilihan kata-kata mempertimbangkan berbagai aspek estetis, maka kata-kata yang sudah dipilih penyair untuk puisinya bersifat absolut dan tidak dapat diganti dengan kata lainnya yang sepadan sekalipun, baik dalam bunyi maupun makna.”
Mahdi Allam mengatakan bahwa penggunaan kata dalam sebuah kalimat estetis sangat tegantung pada adanya korelasi antara satu kata dengan kata lainnya, baik sebelum maupun sesudahnya. Keindahan suatu kata akan sangat ditentukan oleh kata yang menyertainya.
Al-Syâfi‘î sangat berhati-hati dalam memilih kata untuk susunan kalimat dalam syairnya. Kata-kata yang digunakan disusun dengan baik dan sempurna sehingga terasa sangat serasi antara satu kata dengan kata lainnya.
Prof. Abdul Halim al-Jundi menjelaskan mengenai gaya bahasa yang sering digunakan al-Syafi‘i. Menurutnya, ada tiga ciri utama karya al-Syafi‘i, yaitu bahasanya fasih, kata-katanya ringkas, dan menyentuh perasaan pembaca atau pendengar.
b. Aspek Wazn
Aspek paling menonjol yang membedakan puisi dan prosa dalam sastra Arab adalah wazn. Satu irama wazn dalam syair Arab disebut Bahr. Bahr dalam syair Arab bervariasi macam dan sifatnya. Ada bahr yang berirama cepat, lambat, kasar, dan lembut. Penggunaan wazn dalam syair Arab sangat tergantung pada bentuk syair sendiri. Syair-syair keagungan (fakhâmah) sangat cocok jika menggunakan bahr thawîl (بحر طويل). Syair-syair romantis/cinta, pujian, dan ratapan, cocok jika menggunakan bahr raml (بحر الرمل) atau basîth (البسيط), karena syair-syair seperti ini tergolong berkarakter lembut dan halus. Syair-syair yang akan penulis analisis ini terdiri atas 4 bentuk wazn yaitu bahr basîth, wâfir, thawîl, dan bahr munsarih.
Bahr basîth cocok untuk syair bertemakan pujian dan cinta. Bahr basîth mempunyai delapan taf‘ilah (dua kali empat taf‘îlah). Setiap taf‘ilah (تفعلة) terdiri atas beberapa maqtha‘ (مقطع). مستفعلن dalam irama basîth berikut ini adalah satu taf‘ìlah yang terdiri atas tiga maqtha‘ yaitu مس-تف-علن dan فاعلن terdiri atas dua maqtha‘ yaitu فا-علن. Taf‘ilah bahr basîth adalah:
مُسْتَفْعِلُنْ فَاعِلُنْ مُسْتَفْعِلُنْ فَاعِلُنْ مُسْتَفْعِلُنْ فَاعِلُنْ مُسْتَفْعِلُنْ فَاعِلُنْ
Perhatikan bait-bait berikut ini:
لمَاَّ عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلَى أَحَدٍ أَرَحْتُ نَفْسِيْ مِنْ هَمِّ الْعَدَوَاتِ
Saat ku beri maaf
Lalu ku tak mendendam
Saat itu pula ku istirahatkan diriku
Dari keinginan para musuh
إنِّي أُحَيِّيْ عَدُوِّيْ عِنْدَ رُؤْيَتِه لِأَدْفَعَ الشرَّ عَنّي بالتحِيَّات
Ku sambut musuh
Saat ku melihatnya
Dengan penuh hormat
Agar ku cegah keburukan
Secara etimologis, kata بسيط dan semua bentuk akar katanya mengandung arti yang beragam. Semuanya menunjukkan adanya kesederhanaan dalam sifat, antara lain: menyenangkan, mengutamakan, dan membentangkan. Bahr basîth adalah irama syair yang sederhana dan dapat memberikan kesenangan kepada pendengarnya sehingga merasa mendapat kepuasaan hati dan kebahagiaan jiwa.
Bahr thawîl memiliki wazn:
فَعُوْلُنْ مَفَاعِلُنْ فَعُوْلُنْ مَفَاعِلُنْ فَعُوْلُنْ مَفَاعِلُنْ فَعُوْلُنْ مَفَاعِلُنْ
Abdul Aziz ‘Atîq dalam bukunya ‘Ilm al-‘Arûdh al-Qâfiyah, memberikan tips cara mengidentifikasi syair yang ber-bahr thawîl, yaitu:
1. Jika terdapat madd sebelum râwî. Keadaan seperti ini sesuai dengan salah satu taf‘ilah bahr thawîl, yaitu مَفَاعِلْ Contoh:
سَأَضْرِبُ في طُوْلِ الحَيَاةِ وَعَرْضِها أَنَالُ مُرَادِيْ أو أَمُوْتُ غَرِيْبًا
2. Jika sebelum râwî terdapat huruf yang shahîh ber-harakat sukûn. Keadaan seperti ini sesuai dengan salah satu taf‘ilah bahr thawîl, yaitu مَفاعِيْلُنْ
3. Sebelum râwî terdapat huruf ber-harakat. Keadaan seperti ini sesuai dengan salah satu taf‘ilah bahr thawîl, yaitu مَفاعِلُنْ
Bahr wâfir (وافر) memiliki wazn:
مُفَاعَلَتُنْ مُفَاعَلَتُنْ فَعُوْلُنْ مُفَاعَلَتُنْ مُفَاعَلَتُنْ فَعُوْلُنْ
Perhatikan bait-bait syair berikut ini:
(1)دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَلْ مَا تَشَاءُ وَطِبْ نَفْسًا إذَا حَكَمَ القَضَاءُ
Jalani harimu,
lakukan apapun yang Kau mau
Lapangkan hatimu
Saat Kau tertimpa suatu keputusan
(2)وَلَا تَجْزَعْ لِحَادِثَةِ اللَّيَالِيْ فَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ
Jangan gelisah dengan kejadian semalam
Semua peristiwa
Tak kan ada yang abadi
(3)وَكُنْ رَجُلًا عَلَى الأَهْوَالِ جَلْدًا وَشِيْمَتُكَ السَمَاحَةُ وَالوَفَاءُ
Beranilah saat mengahapi ketakutanmu
Sikapilah dengan penuh kelapangan
Bahr munsarih (المنسرح) memiliki wazn:
مُسْتَفْعِلُنْ مَفْعُوْلَاتْ مُسْتَفْعِلُنْ مُسْتَفْعِلُنْ مَفْعُوْلَاتْ مُسْتَفْعِلُنْ
Perhatikan bait-bait syair berikut ini:
(15)صَبْرًا جمِيْلاً ما أَقْرَبَ الفَرَجَا مَنْ راقَبَ اللهَ في الأُمُوْرِ نَجَا
Bersabarlah yang baik
Niscaya Kau rasakan alangkah dekatnya jalan keluar
Selamat yang didapat
Bagi mereka yang merasa diawasi oleh-Nya
(16)مَنْ صَدَّقَ اللهَ لم يَنَلْهُ أَذًى وَمَنْ رَجَاهُ يكونُ حَيْثُ رَجَا
Barangsiapa membenarkan Allah
Tak kan ada cela yang menimpa
Barangsiapa mengharapkan-Nya
Kan dia temukan sesuai harapannya
c. Aspek Qâfiyah
Ciri khas lain dari syair-syair Arab adalah qâfiyah. Dalam puisi Indonesia, qâfiyah lebih tepat diartikan dengan istilah rima akhir. Sedangkan rawi dapat disamakan dengan bunyi akhir dalam larik-larik sajak. Syair Arab dapat dikatakan baik dan benar manakala memiliki bunyi huruf rawi (sajak) yang sama. Ali al-Jârim mengatakan bahwa sajak yang baik yaitu sajak yang larik-larik bunyi rimanya sama. Sajak dapat dikatakan indah manakala susunan kata-katanya seimbang, bebas dari pemaksaan dan pengulangan kata yang tidak bermanfaat. Dua puluh bait syair yang penulis analisis terbagi ke dalam 4 jenis qâfiyah, yaitu:
1) Qâfiyah al-Hamzah
دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَلْ مَا تَشَاءُ (وافر)
(1)دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَلْ مَا تَشَاءُ وَطِبْ نَفْسًا إذَا حَكَمَ القَضَاءُ
Jalani harimu,
lakukan apapun yang Kau mau
Lapangkan hatimu
Saat Kau tertimpa suatu keputusan
(2)وَلَا تَجْزَعْ لِحَادِثَةِ اللَّيَالِيْ فَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ
Jangan gelisah dengan kejadian semalam
Semua peristiwa
Tak kan ada yang abadi
(3)وَكُنْ رَجُلًا عَلَى الأَهْوَالِ جَلْدًا وَشِيْمَتُكَ السَمَاحَةُ وَالوَفَاءُ
Beranilah saat mengahapi ketakutanmu
Sikapilah dengan penuh kelapangan
2) Qâfiyah al-Bâ’
1. سَأَضْرِبُ فِي طُوْلِ البِلَادِ وَعَرْضِها (الطويل)
(4)سَأَضْرِبُ في طُوْلِ الحَيَاةِ وَعَرْضِها أَنَالُ مُرَادِيْ أو أَمُوْتُ غَرِيْبًا
Kan ku tempuh hidup ini
Kan ku raih semua isinya
Ku raih
Atau mati di perantauan
(5)فإنْ تَلَفَتْ نفسِي فَلِلّهِ دَرُّهَا وَإنْ سَلِمَتْ كانَ الرُّجوْعُ قَرِيْبًا
Jika jiwaku mati,
Allah lah tempat kembali
Namun, jika aku selamat
Sebentar lagi ku kan pulang
2. دَعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِبْ (بسيط)
(6)مَا في المَقامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبٍ مِنْ رَاحَةٍ فَدَعِ الأَوْطَانَ واغترِبِ
Bila ingin kau raih
Ketenangan hidup orang cerdas nan beradab
Tinggalkan kampungmu
Merantaulah
(7)سافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفارِقُهُ وَانْصَبْ فإنَّ لَذِيْذَ العَيْشِ في النَصَبِ
Teruslah merantau
Pasti kau temukan pengganti
Orang yang Kau tinggalkan
Bekerjalah, di dalamnya tersimpan kenikmatan hidup
(8)إنِّي رَأيْتُ وُقُوْفَ الماءِ يُفْسِدُهُ إنْ سَاحَ طابَ وإنْ لم يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
Sungguh, ku lihat rusaknya air tergenang
Baguslah kalau mengalir
Namun, jika tidak
Baunya kan tercium
3. الشَّيْبُ نَذِيْرُ الفَنَاءِ (طويل)
(9)وَمَنْ يَذُقِ الدُنْيا فإنّي طَعَمْتُها وَسِيْقَ إلينا عَذْبُها وعَذابُها
Siapa yang mencicipi dunia
Aku pun telah merasakannya
Ku cicipi manisnya
Sekaligus siksaannya
(10)فَلَمْ أرَها إلا غُرُوْرًا وَبَاطِلًا كَما لاحَ في ظَهْرِ الفَلاةِ سَرابُها
Ku hanya melihatnya
Tempat penuh tipuan
Bak ku saksikan indahnya fatamorgana
Di padang sahara
(11)وَما هي إلا جِيْفَةٌ مُسْتَحِيْلَةٌ عليها كِلابٌ هَمُّهُنَّ اجْتِذَابُها
Dunia hanyalah seonggok bangkai
Hanya anjing-anjing lapar
Yang mencicipinya
(12)فَطُوْبى لِنَفْسٍ أُوْلِعَتْ قَعْرَ دارِها مُغَلَّقَةَ الأبْوَابِ مُرَخًى حِجابُها
Alangkah bahagianya
Ooh..jiwa-jiwa jauh dari keramaian
Kau tutup pintu rapat-rapat
Dengan tirai-tirai berlapis
3) Qâfiyah al-Tâ’
أخْلَاقُ المُسْلِمِ (بسيط)
(13)لمَاَّ عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلَى أَحَدٍ أَرَحْتُ نَفْسِيْ مِنْ هَمِّ الْعَدَوَاتِ
Saat ku beri maaf
Lalu ku tak mendendam
Saat itu pula ku istirahatkan diriku
Dari keinginan para musuh
(14)إنِّي أُحَيِّيْ عَدُوِّيْ عِنْدَ رُؤْيَتِه لِأَدْفَعَ الشرَّ عَنّي بالتحِيَّات
Ku sambut musuh
Saat ku melihatnya
Dengan penuh hormat
Agar ku cegah keburukan
4) Qâfiyah al-Jîm
ما أقْرَبَ الفَرَجَ (منسرح)
(15)صَبْرًا جمِيْلاً ما أَقْرَبَ الفَرَجَا مَنْ راقَبَ اللهَ في الأُمُوْرِ نَجَا
Bersabarlah yang baik
Niscaya Kau rasakan alangkah dekatnya jalan keluar
Selamat yang didapat
Bagi mereka yang merasa diawasi oleh-Nya
(16)مَنْ صَدَّقَ اللهَ لم يَنَلْهُ أَذًى وَمَنْ رَجَاهُ يكونُ حَيْثُ رَجَا
Barangsiapa membenarkan Allah
Tak kan ada cela yang menimpa
Barangsiapa mengharapkan-Nya
Kan dia temukan sesuai harapannya
d. Aspek Susunan Kata
Yang dimaksud dengan susunan kata di sini ialah sintaksis atau dalam bahasa Arab disebut nahwu. Bahasa Arab fushhâ adalah bahasa Arab yang sesuai dengan kaidah-kaidah nahwu dan sharf. Syair-syair yang dipakai al-Syâfi‘î dalam syair-syairnya termasuk bahasa Arab fushâ.
3. Ide-ide Syair-syair Moral al-Syâfi‘î
a. Akhlak Seorang Muslim
(13)لمَاَّ عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلَى أَحَدٍ أَرَحْتُ نَفْسِيْ مِنْ هَمِّ الْعَدَوَاتِ
(14)إنِّي أُحَيِّيْ عَدُوِّيْ عِنْدَ رُؤْيَتِه لِأَدْفَعَ الشرَّ عَنّي بالتحِيَّات
Di sini, kita melihat Imam al-Syâfi‘î merupakan sosok yang berakhlak tinggi. Ia berdakwah dengan mengenakan pakaian etika Islam yang agung, jauh dari sifat dengki dan sifat-sifat buruk lainnya. Ia memaafkan semua orang yang pernah berbuat salah kepadanya. Bahkan mencintai mereka semua termasuk orang-orang yang memusuhinya, yang menginginkannya terjerumus ke dalam jurang kehinaan. Ia tampilkan sosok peramah di depan semua orang temasuk saat bertemu dengan mereka yang sangat membencinya agar terhindar dari keburukan yang mereka miliki.
b. Alangkah Dekatnya Kelapangan
(15)صَبْرًا جمِيْلاً ما أَقْرَبَ الفَرَجَا مَنْ راقَبَ اللهَ في الأُمُوْرِ نَجَا
(16)مَنْ صَدَّقَ اللهَ لم يَنَلْهُ أَذًى وَمَنْ رَجَاهُ يكونُ حَيْثُ رَجَا
Pada dua bait di atas, Imam al-Syâfi‘î berpegang teguh pada tali Allah yang kokoh dan bertawakal kepadanya dengan sepenuh hati. Ini semua membuktikan keimanannya yang sangat kuat sehingga membuatnya terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk dan bersemangat dalam berbuat kebajikan. Kesabaran yang dimiliki seseorang saat menghadapi semua kejadian yang menimpanya dengan disertai perasaan sedang diawasi oleh Allah Swt, akan membuka tabir solusi permasalahan yang sedang ia hadapi. Tidak akan pernah ada kejelekan yang menimpa, saat seseorang yakin akan adanya pertolongan Allah. Bahkan Ia akan memberikan apapun yang diharapkannya.
c. Uban adalah Sebuah Peringatan akan Kehancuran
(9)وَمَنْ يَذُقِ الدُنْيا فإنّي طَعَمْتُها وَسِيْقَ إلينا عَذْبُها وعَذابُها
(10)فَلَمْ أرَها إلا غُرُوْرًا وَبَاطِلًا كَما لاحَ في ظَهْرِ الفَلاةِ سَرابُها
(11)وَما هي إلا جِيْفَةٌ مُسْتَحِيْلَةٌ عليها كِلابٌ هَمُّهُنَّ اجْتِذَابُها
(12)فَطُوْبى لِنَفْسٍ أُوْلِعَتْ قَعْرَ دارِها مُغَلَّقَةَ الأبْوَابِ مُرَخًّى حِجابُها
Imam al-Syâfi‘î dalam setiap syairnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Islam. Kita sering kali menyaksikan di dalam syairnya, mengajak manusia agar menuju jalan kebenaran, cinta kasih, kemuliaan, dan sifat-sifat positif manusia lainnya.
Pada bait-bait di atas, Imam al-Syâfi‘î mengajak manusia agar bersikap zuhud dalam menjalani kehidupan dunia seperti apa yang telah dilakukan oleh para al-salaf al-shâlih yang sangat faham dengan seluk beluk kehidupan manusia yang sebenarnya sehingga jiwa tidak akan terbelenggu dengannya. Zuhud bukan dalam arti menjauhi dunia secara total, namun mengendalikan diri agar tidak menjadi budak dunia yang gemar mengikuti hawa nafsunya. Pada saat itu, banyak kaum muslim yang keimananannya hanya sebatas ucapan saja sehingga sangat mudah tergoda dengan perhiasan-perhiasan dunia yang menipu dan membutakan hati. Al-Imam al-Syâfi‘î memuji-muji orang yang berhasil mengendalikan dan menutup semua celah pintu hawa nafsu dari masuknya godaan dunia.
d. Jalani Hari-harimu, Lakukan Apapun yang Kau Mau!
(1)دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَلْ مَا تَشَاءُ وَطِبْ نَفْسًا إذَا حَكَمَ القَضَاءُ
(2)وَلَا تَجْزَعْ لِحَادِثَةِ اللَّيَالِيْ فَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ
(3)وَكُنْ رَجُلًا عَلَى الأَهْوَالِ جَلْدًا وَشِيْمَتُكَ السَمَاحَةُ وَالوَفَاءُ
Imam al-Syâfi‘î mengkritik orang-orang yang mudah menyerah dalam menghadapi kerasnya kehidupan dunia. Beliau menganjurkan kepada mereka agar tetap semangat dalam menjalani kehidupan dan menyikapinya dengan penuh kesabaran. Kehidupan dunia akan menghancurkan orang-orang lemah dan mudah menyerah. Islam adalah solusi tepat untuk menjalani kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya. Islam mengharuskan manusia berjuang dan bekerja keras untuk mencari penghidupan dan membangun kehidupan yang mapan. Semua peristiwa, keadaan, dan hal-hal lainnya terkait kehidupan dunia, akan terus berubah, selalu dinamis. Oleh karena itu, hadapilah kehidupan ini dengan penuh keberanian dan lapang dada!
e. Kan Ku Tempuh Betapun Jauh, Kan Ku Raih Semuanya
(4)سَأَضْرِبُ في طُوْلِ الحَيَاةِ وَعَرْضِها أَنَالُ مُرَادِيْ أو أَمُوْتُ غَرِيْبًا
(5)فإنْ تَلَفَتْ نفسِي فَلِلّهِ دَرُّهَا وَإنْ سَلِمَتْ كانَ الرُّجوْعُ قَرِيْبًا
Inilah Islam. Menghimbau manusia agar sering melakukan perjalanan menuju tempat-tempat di luar rumahnya sejauh mungkin. Banyak solusi permasalahan hidup yang tersimpan di sana. Oleh karena itu, kenikmatan hidup terletak pada perjuangan seseorang saat menemukannya. Jika berhasil, maka ia meraih semua kenikmatan dunia ini. Namun, jika gagal, ia akan tetap semangat mencarinya sampai maut menjemput di perantauan atau kembali ke tempat tinggal dengan tangan banyak makan garam.
f. Tinggalkan Kampung Halaman, Merantaulah!
(6)مَا في المَقامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبٍ مِنْ رَاحَةٍ فَدَعِ الأَوْطَانَ واغترِبِ
(7)سافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفارِقُهُ وَانْصَبْ فإنَّ لَذِيْذَ العَيْشِ في النَصَبِ
(8)إنِّي رَأيْتُ وُقُوْفَ الماءِ يُفْسِدُهُ إنْ سَاحَ طابَ وإنْ لم يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
Manusia mesti berjuang dalam menghadapi kerasnya kehidupan, Allah lah yang menentukan nasib semua orang. Jika kehidupan dunia ini hampa dari upaya dan usaha manusia, tentulah mereka akan merasa bosan, jemu, dan hidup monoton. Di dalam usaha tersimpan kenikmatan yang membuat manusia merasa puas. Agar tercapai kenikmatan usaha yang maksimal, perlu pergi melanglang buana menemukan pengalaman baru. Jika terus diam, tidak ada keinginan untuk hidup mapan meraih keutamaan dunia dan akhirat ibarat air yang menggenang tak mengalir. Semakin lama, semakin berbau dan menjadi sarang penyakit masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Problema multi dimensi masa kekuasaan Bani Abbasiyyah telah membuat sebagian umat muslim kalang kabut, terperangkap di dalam glamor kenikmatan dunia. Tidak terkecuali para penyair yang serta merta mencari penghidupan di depan istana, menjilat kaki para penguasa yang sedang terlelap tidu di bawah belaian dunia.
Kemudian, muncullah sosok jenius dan bersahaja menghantam badai pengikut hawa nafsu yang tengah terlelap tidur dalam hembusan nafas setan. Syair-syair yang menjadi senjata utamanya mampu menghadang para jago-jago syair pada masa itu. Syair penuh dosa, ia hancurkan dan mulai mengajak orang agar menuju kebaikan. Seorang Imam al-Syâfi‘î, orang Arab yang belajar bahasanya sendiri selama 20 tahun di pedalaman, menyihir orang-orang untuk kembali ke jalan kebenaran dengan syairnya yang menyentuh jiwa.
Ketinggian bahasanya telah membuat para pendengarnya terkesima dan berusaha mengabadikannya di dalam sebuah buku atau menjadikannya dalil atas argumen yang dikemukakannya.
B. SARAN
Semua isi makalah ini, penulis ambil dari sumber-sumber terpercaya. Namun, penulis mengharapkan kepada pembaca yang budiman agar memverifikasinya kembali demi peningkatan kualitas ilmiah makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Allam, Mahdy, et.al. Naqd al-Balâghah. Kairo: Wizârah al-Tarbiyah wa al-Ta‘lîm, 1961.
‘Atîq, ‘Abdul ‘Azîz. ‘Ilm al-‘Arûdh al-Qâfiyah. Kairo: Dâr al-Âfâq al-‘Arabiyyah, 2006.
Hulw , Abdul Fatah Muhammad. 24 Tokoh Pewaris Para Nabi. Penerjemah: Ghazali Subhan. Jakarta: Pustaka Qalami, 2004.
Husain, Thaha, et.al. al-Taujîh al-Adabî. Kairo: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, 1953.
Al-Indunisî, Ahmad Nahrawi Abd al-Salâm. Ensiklopedia Imam Syafi‘i. Penerjemah: Usman Sya‘roni. Jakarta: Penerbit Hikmah, 2008.
Jârim, Ali. Al-Balâghah al-Wâdhihah. Kairo: Dâr al-Ma‘ârif, t.t.
Kamil, Syukron. Teori Kritik Sastra Arab. Jakarta: Rajawali Press, 2009.
Al-Nawawî, al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab. T.t: al-‘Âshimah, T.th
Rauf, Farhurrahman. Syair-syair Cinta Rasul: Studi Tahlîlî atas Corak Sastra Kasidah Burdah Karya al-Bûsyîry. Ciputat: Puspita Press, 2009.
Rusyd, Ibnu. Bidâyat al-Mujtahid. Kairo: Maktabah al-Syurûq al-Dauliyyah, 2004
Thabarî , Târîkh al-Thabarî. T.t: al-Istiqamah, 1939.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1996.
Umam, Chatibul. Al-Muyassar fÎ ‘Ilm al-‘Àrûdh. Jakarta: Hikmah Syahid, 1992.
Waluyo, Herman J. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga, 1987.
Zarzur, Na‘îm. Dîwân al-Syâfi‘î. Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995.
Lebih lengkapnya download di sini

Komentar
Posting Komentar