KREDIBILITAS IBN TAYMIYYAH DALAM HADIS DAN ILMU HADIS



BAB I
PENDAHULUAN

Terdapat dua pilar utama sumber hukum Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Al-Sunnah atau Hadis merupakan perkataan, perbuatan, ketetapan, dan keterangan kepribadian Rasulullah Saw yang disampaikan secara turun-temurun mulai dari generasi sahabat sampai generasi para muhaddits kenamaan yang membukukan hadis-hadis yang dihafalnya. Otentisitas keduanya sangat ditentukan oleh validitas sanad dan matan. Al-Qur’an diriwayatkan secara Mutâwatir mulai dari generasi sahabat sampai generasi setelahnya sehingga validitasnya terjamin. Adapun riwayat yang berstatus Ahad dianggap syadz sehingga tidak dimasukkan ke dalam ayat al-Qur’an. Adapun Hadis, tidak banyak yang diriwayatkan secara mutawatir, bahkan hampir seluruhnya berstatus Ahad.
Dalam proses uji validitas sebuah riwayat diperlukan kemampuan khusus yang tidak semua orang memilikinya. Setidaknya seseorang yang bermaksud menguji validitas sebuah hadis harus memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu mushthalah al-hadîts, rijâl al-hadîts, ‘Ilal al-hadîts dan lain sebagainya.
Salah satu sosok yang memiliki kemampuan tersebut di atas adalah Ibn Taimiyyah. Tidak sedikit ulama-ulama besar, baik sezaman maupun setelahnya, memberikan penghargaan yang besar atas profesionalisme-nya dalam menganalisis validitas hadis. Rasulullah Saw bersabda:
ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا ويرحم كبيرنا ويعرف لعالمنا (رواه أحمد)
“Tidak termasuk umatku, orang yang tidak mengagungkan dan mengasihi pembesar-pembesar kita serta tidak mengenal betul para cendikiawan kita”
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, penulis akan menguraikan sepak terjang Ibn Taimiyyah dalam ranah hadis dan ilmu hadis sehingga beliau layak menyandang gelar muhaddits.

BAB II
PEMBAHASAN

A. RIWAYAT HIDUP IBN TAIMIYYAH
Ibn Taimiyyah bernama lengkap Ahmad bin ‘Abd al-Halîm bin Abd al-Salâm bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Alî al-Harrânî Ibn Taimiyyah. Beliau mempunyai kunyah Abu al-‘Abbâs, namun ia lebih terkenal dengan kunyah Ibn Taimiyyah. Ia dilahirkan pada hari Senin, 10 Rabî‘ al-Awwal 661 H/22 Januari 1263 M di Harran, bagian Barat Irak. Keluarganya adalah penganut madzhab Hanabilah. Ayah dan kakeknya merupakan dua sosok ulama besar yang sangat dikagumi. Meninggal pada tahun 728 H.
B. RIWAYAT PENDIDIKAN
Semua keluarganya hijrah dari Harran ke Damaskus akibat serangan pasukan Tatar pada tahun 667 H. Ayahnya meninggal dunia saat ia berusia 21 tahun. Pertama kali belajar, beliau menghafal al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan mempelajari ilmu hadis dan mendengar hadis di Damaskus kepada ulama-ulama hadis kenamaan setempat, seperti al-Qâsim al-Arbalî , al- Muslim bin ‘Alân , Ibn Abû al-Dâ’im, Ibn Abû al-Yasar, al-Kamâl bin ‘Abd, Ibn Shairafî, Ibn Abû al-Khair, dan lain-lain sehingga mampu menguasai rijâl al-hadîts, ‘Ilal al-hadîts, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Jumlah guru-guru beliau mencapai lebih dari 200 orang. Namun, ia tidak menuliskannya seperti apa yang dilakukan oleh sahabatnya al-Mizzî yang mengarang Kitab Mu‘jam berisikan guru-guru yang pernah mengajarnya. Salah satu cara untuk mengidentifikasi guru-guru Ibn Taimiyyah adalah 40 buah hadis bersanad lengkap yang dimiliki oleh Ibn Taimiyyah dan dikumpulkan oleh muridnya Ibn al-Wânî. Di antaranya, penulis temukan guru-guru beliau sebagai berikut:
1) Al-Kamal bin Faris (w. 676 H), pada hadis yang ke-13;
2) Ibn al-Sadîd al-Ansharî (w. 677 H), pada hadits ke-12;
3) Ibrahim bin Ismâ‘îl (w. 681 H), pada hadits ke-21;
4) Al-Jamâl bin al-Hamawî (w. 687), pada hadits ke-17, 32, dan 26;
5) Ahmad bin Abî al-Khayr , pada hadits ke-14; Ahmad bin Syaibân (w. 685 H), pada hadis ke-4, 5, 6, 7, 11, 16, 17, 25, 26, 27, 28, 29, 35, 37, 38, 39, dan 40;
6) Ahmad bin Ab al-Dâ’im (w. 668 H), pada hadis ke-1, 13 dan 30;
7) Ismâ‘îl bin Ibrâhîm (w. 672 H.), pad hadis ke-3;
8) Ismâ‘îl bin Abîu Abdillah (w. 682 H), pada hadis ke-4, 5, 6, 7, 11,17, 18, 26, 29, 37, 39, dan 40;
9) Abdullah bin Muhammad (w. 673 H), pada hadits ke- 16;
10) Ahmad bin ‘Abbâs al-Fâqûsî (w. 682 H), pada hadis ke- 33;
11) Abdurrahmân bin al-Zayn (w. 689 H), pada hadis ke-4, 5, 6, 7, 9, 29, dan 36;
12) Abdurrahmân bin Sulaymân (w. 670 H), pada hadis ke- 4, 5, 6, 7, dan 9;
13) Abdurrahmân bin Abî al-Sha‘r (w. 676 H), pada hadis ke- 20;
14) Abdurrahmân bin Abî Umar (w. 682 H), pada hadis ke- 5, 17, 24, 28, dan 35;
15) Abdurrahîm bin Abd al-Mâlik (w. 680 H) ,pada hadis ke- 4, 5, 6, 7, dan 27;
16) Abd al-‘Àzîz bin ‘Abd al-Mun‘im (w. 672 H), pada hadis ke-2;
Kitab hadis yang pertama kali ia hafal adalah Kitab al-Jam‘ bain al-Shahîhain karya al-Humaidî.

C. KESAKSIAN ULAMA TERHADAP IBN TAIMIYYAH
Al-Syaukânî berkata, “Saya tidak mengetahui ulama yang mirip dengan Ibn Hazm sepeninggalnya. Pada masa antara Ibn Hazm dan Ibn Taimiyyah pun, saya tidak mengetahui ulama yang dapat menyamai keduanya”
Al-Dzahabî berkata, “Hadis yang tidak diketahui oleh Ibn Taimiyyah tidak dapat dikategorikan hadis”
Al-Mizzî mengatakan, “Saya tidak mengetahui orang yangg lebih faham dan sangat mutâba‘ah terhadap al-Qur’an dan hadis selain Ibn Taimiyyah”
Ibn Daqîq al-‘Îd berkata, “Jika saya berkumpul dengan Ibn Taimiyyah, saya melihat seseorang yang memiliki samudera ilmu. Orang-orang dapat memilih apa yang disukainya.”
Ibn Hajar al-‘Asqalânî berkata, “Kemasyhuran Syeikh Ibn Taimiyyah melebihi kemasyhuran matahari. Gelar Syaikh al-Islam tetap beliau sandang sejak beliau hidup sampai masa kita sekarang dan akan terus bergema di masa yang akan datang seperti gaungnya di masa lalu. Hanya orang pandir saja yang terus-menerus mengingkarinya”
Syam al-Dîn bin al-Harîrî memuji Ibn Taimiyyah yang sangat mapan dalam pemahamannya terhadap ilmu-ilmu yang ia miliki. Bahkan dalam tulisannya, al-Harirî membela Ibn Taimiyyah sebanyak 13 baris yang berisi pujian beliau terhadapnya dengan menyatakan bahwa dalam kurun waktu 300 tahun belum pernah ditemukan kembali ulama seperti Ibn Taimiyyah.
D. PEMBUKTIAN ATAS KREDIBILITAS IBN TAIMIYYAH DALAM HADIS DAN ILMU HADIS
1. Ibn Taimiyyah Seorang Tsiqqah
Di antara syarat penetapan status shahîh pada sebuah hadis jika dilihat dari sisi periwayatnya adalah hadis tersebut diriwayatkan oleh orang yang ‘adl dan memiliki daya ingat yang kuat. Periwayat hadis yang memiliki kedua kriteria tersebut layak menyandang gelar tsiqqah.
Ibn Taimiyyah sebagai seorang ulama besar mendapatkan pengakuan dari para para cendekiawan muslim kompeten, profesional, dan kredibel lainnya atas kepribadiannya yang luhur. Berikut ini penulis kemukakan pernyataan-pernyataan mereka sebagai saksi kunci terhadap keluhuran budi, ketajaman pikiran, dan kekuatan daya ingatnya yang luar biasa:
1) Al hafidz Ibn ‘Abd al-Hâdî menyebutkan, “Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pent.) yang sengaja datang ke Damaskus, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibn Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibn Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.”
2) Al-Dzahabî memasukkan Ibn Taimiyyah ke dalam generasi muhaddits periode 650 – 670 H. atau periode ke-21 .
2. Buah Karya Ibn Taimiyyah dalam Hadis dan Ilmu Hadis
DR. Muhammad al-‘Alîmî menyatakan dalam bukunya Ibn Taimiyyah Muhadditsan bahwa Ibn Taimiyyah tidak menyusun kitab yang membahas hadis dan ilmu hadis secara khusus, namun tersebar dalam beberapa karyanya yang sangat fenomenal. Terlepas ada dan tidaknya karya beliau yang membahas kedua bidang tersebut, pembahasan hadis dan ilmu hadis yang tercecer dalam karya-karyanya mampu menjawab semua masalah dalam bidang hadis dan ilmu hadis pada masa puncak keemasan kedua bidang tersebut, yaitu pada abad ke-7 dan abad ke-8 hijriyah. Sehingga, jika seandainya pembahasan-pembahasan tersebut disatukan dalam satu kitab khusus dalam bidang hadis dan ilmu hadis, akan melahirkan kitab hadis dan ilmu hadis yang sangat luar biasa.
3. Kajian Hadis
a. Orang Pertama yang Menetapkan Kepalsuan 10 Hadis di Masanya.
Bahkan, lebih luar biasa lagi, saat Ibn Taimiyyah menganalisis 10 hadis palsu dalam kitabnya Minhâj al-Sunnah. Pembahasannya sangat komprehensif dan ilmiah serta sangat sulit ditemukan di tempat lain. Sepuluh hadis palsu tersebut telah menyebar luas di kalangan masyarakat luas sehingga pantaslah jika usaha Ibn Taimiyyah memutus penyebarannya dengan pernyataannya atas kepalsuan hadis-hadis tersebut, mendapatkan sambutan meriah dari para cendekiawan muslim karena sumbangsihnya yang sangat berharga bagi dunia Islam.
b. Kepemilikan 40 Buah Hadis yang Bersanad
Selain itu, ia juga memiliki hadis-hadis bersanad yang sampai kepada Rasulullah Saw sebanyak 40 buah hadis. Syeikh Abd al-Rahmân bin Muhammad bin Qâsim menghimpun hadis-hadis tersebut dalam satu jilid khusus Majmû‘ Fatawâ Syaikh al-Islâm Ibn Taimiyyah.
Sebagai contoh, penulis sebutkan salah satu hadis marfû‘ yang diriwayatkan oleh Ibn Taimiyyah beserta sanadnya secara lengkap:
1. أخبرنا الإمام زين الدين أبو العباس أحمد بن عبد الدائم بن نعمة ابن أحمد المقدسي قراءة عليه وأنا أسمع سنة 667 هـ، أخبرنا أبو الفرج عبد المنعم بن عبد الوهاب بن سعد بن كليب قراءة عليه، أخبرنا أبو القاسم علي بن أحمد بن محمد بن بيان الرزاز قراءة عليه، أخبرنا أبو الحسن محمد بن محمد بن محمد بن إبراهيم بن مخلد البزاز، أخبرنا أبو علي إسماعيل بن محمد بن اسماعيل الصفار، حدثنا الحسن بن عرفة بن يزيد العبدي، حدثني أبو بكر بن عياش، عن أبي إسحق السبيعي، عن البراء ابن عازب، قال: "خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه، فأحرمنا بالحج." قال: فلما قدمنا مكة قال: "اجعلوا حجكم عمرة"، قال: فقال الناس: "يا رسول الله، قد أحرمنا بالحج فكيف نجعلها عمرة؟" قال: فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "انظروا الذي آمركم به فافعلوا" قال: "فردوا عليه القول، فغضب ثم انطلق حتى دخل على عائشة رضي الله عنها غضبان. قرات الغضب في وجهه فقالت: "من أغضبك أغضبه اللهز" قال:" وما لي لا أغضب وأنا آمر بالأمر ولا أتبع"
2. أخبرنا نجيب الدين أبو المرهف المقداد بن أبي القاسم هبة الله ابن المقداد بن علي القيسي قراءة عليه وأنا أسمع، أخبرنا أبو محمد عبد العزيز بن محمود بن المبارك بن الأخضر قراءة عليه، أخبرنا أبو بكر محمد بن عبد الباقي الأنصاري، أخبرنا أبو إسحاق البرمكي، أخبرنا أبو محمد بن ماسي، حدثنا أبو مسلم الكجي، حدثنا محمد بن عبد الله الأنصاري، حدثني سليمان التيمي، عن أنس بن مالك، قال: ((قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا هجرة بين المسلمين فوق ثلاثة أيام-أو قال ثلاثة ليال-
3. أخبرنا الإمام أبو عبد الله محمد بن عامر بن أبي بكر الغسولي بقراءتي عليه في سنة 682، أخبرنا أبو البركات داود بن أحمد بن محمد ابن ملاعب قراءة عليه، أخبرنا أبو الفضل محمد بن عمر بن يوسف الأرموي قراءة عليه، أخبرنا أبو الغنائم عبد الصمد بن علي بن محمد بن المأمون، أخبرنا أبو الحسن علي بن
Hadis ini diriwayatkan pula oleh al-Nasâ’î dan Ibn Mâjah sebagai Mutâbi‘ât melalui jalur Abu Bakar Ibn ‘Ayyâsy.
Keempat puluh hadis tersebut berisikan hal-hal sebagai berikut:
1) Hadits ke-1 membicarakan tentang faskh haji dengan umrah. Diriwayatkan pula oleh al-Nasâ’î dalam Sunan al-Kubrâ, Kitab ‘Amal al-Yaûm wa al-laylah dan Ibn Mâjah dalam Kitab Manasik sebagai Mutâbi‘ât melalui jalur Abu Bakar Ibn ‘Ayyâsy
2) Hadis ke-2 tentang fitnah pertama kali muncul dari Syam. Diriwayatkan pula oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, Ibn ‘Asâkir dalam Kitab tahdzîb Târîkh Dimasyq, dan al-Suyûthî dalam al-Dur al-Mantsûr melalui jalur yang sama serta Imam Ahmad melalui jalur ‘Amr bin al‘Ash.
3) Hadis ke-3 tentang umat Nabi Muhammad sebagai umat yang adil dan pilihan. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî dalam Kitab al-Anbiyâ’, al-Tirmîdzî Kitab Tafsîr al-Qur’ân, al-Nasâ’î Kitab al-Tafsîr, Ibn Mâjah Kitab al-Fitan, dan Imam Ahmad.
4) Hadis ke-4 tentang hamba Allah Swt yang doanya pasti dkabulkan. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitab al-Shulh, al-Jihâd, dan al-Tafsîr, Abu Dâwûd Kitab al-Diyyât, al-Nasâ’î, Ibn Mâjah, dan Ahmad.
5) Hadis ke-5 tentang menolong sahabat yang aniaya dan teraniaya. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitab al-Mazhâlim dan al-Tirmîdzî Kitâb al-Fitan.
6) Hadis ke-6 tentang hukuman neraka bagi pendusta dalam hadis. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-‘Ilm, Muslim Kitâb al-Zuhd, dan al-Nasâ’î Kitâb al-‘Ilm.
7) Hadis ke-7 tentang etika orang bersin dan yang mendengarnya. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Adâb dan Muslim Kitâb al-Zuhd.
8) Hadis ke-8 tentang 3 karakteristik orang munafik. Diriwayatkan pula al-Bukhârî, Muslim, al-Nasâ’î, dan al-Tirmîdzî dalam Kitâb al-Îmân.
9) Hadis ke-9 tentang larangan dua cara pemakaian baju dan jual beli. Diriwayatkan pula oleh al-Nasâ’î Kitab al-Zînah dengan status Munkar karena salah satu periwayatnya, yaitu Muhammad bin ‘Umair tidak diketahui identitasnya.
10) Hadis ke-10 tentang pahala bagi orang yang memerdekakan budak. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitab Kaffârât al-Aymân, Muslim Kitâb al-‘Itq, al-Tirmîdzî Kitâb al-Nudzûr wa al-Aymân.
11) Hadis ke-11 tentang berita masuk surganya Umar Ra dengan tersedianya istana baginya di sana. Diriwayatkan pula oleh al-Tirmîdzî Kitâb al-Manâqib, al-Nasâ’î Kitab al-Manâqib, dan Ahmad.
12) Hadis ke-12 tentang orang yang berpuasa dengan khiyâr. Diriwayatkan pula oleh al-Bayhaqî dan Ibn ‘Asâkir.
13) Hadis ke-13 tentang persamaan status orang yang membaca al-Qur’an dengan pelan dan orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi begitu pula sebaliknya. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud Kitab al-Shalah, al-Tirmîdzî Kitab Fadhâ’il al-Qur’an, al-Nasa’î Kitab al-Zakat, dan Ahmad.
14) Hadis ke-14 tentang anjuran tidur ketika ngantuk saat shalat malam. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitab Tahajjud, Muslim Kitab Shalat al-Musâfirîn, Abu Dawûd Kitab al-Shalâh, al-Nasâ’î Kitâb Qiyâm al-Layl wa Tathawwu’ al-Nahâr, Ibn Mâjah Kitâb Iqâmat al-Shalâh, dan Ahmad.
15) Hadis ke-15 tentang peringatan bagi makmum yang mendahului imam. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitab al-Adzân, Muslim Kitâb al-Shalâh, Abû Dâwûd Kitâb al-Shalâh, al-Tirmîdzî Kitâb al-Jumu‘ah, al-Nasâ’î Kitâb al-Imâmah, Ibn Mâjah Kitâb Iqâmat al-Shalâh, dan al-Darîmî Kitab al-Shalâh.
16) Hadis ke-16 tentang pengurangan pahala sebanyak dua qirâth bagi pemelihara anjing tanpa kerja. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Shayd wa al-Dzabâ’ih, Muslim Kitâb al-Musâqah, Ahmad, al-Tirmîdzî, al-Nasâ’î, dan Ibn Mâjah.
17) Hadis ke-17 tentang keutamaan bacaan hawqalah. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitab al-Da‘awât, Muslim Kitâb al-Dzikr wa al-Du‘â’, Abû Dawûd Kitab al-Witr, al-Tirmidzî Kitab al-Da‘awât
18) Hadis ke-18 tentang tangisan sebatang kayu yang biasa dipakai sandaran oleh Rasulullah Saw sesaat setelah beliau pindah ke atas mimbar. Diriwayatkan pula oleh al-Tirmidzî Kitâb al-Manâqib, Ibn Mâjah Kitâb Iqâmat al-Shalâh dan al-Zawâ’id, al-Dârîmî dalam al-Muqaddimah, dan Imam Ahmad.
19) Hadis ke-19 tentang kualitas keharuman bau nafas orang yang berpuasa di atas kualitas minyak wangi kesturi. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Shaûm, Muslim Kitâb al-Shiyâm, al-Tirmidzî Kitâb al-Shaûm, al-Nasâ’î Kitâb al-Shaûm, Ibn Mâjah Kitâb al-Shaûm, dan Ahmad.
20) Hadis ke-20 tentang kedatangan Rasulullah Saw di Mekah melalui bagian atas Mekah dan ketika keluar melalui bagian paling bawah Mekah. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Hajj, Muslim Kitâb al-Hajj, Abû Dâwûd Kitâb al-Manâsik, al-Tirmîdzî Kitâb al-Hajj, al-Nasâ’î Kitâb al-Hajj, dan Imam ahmad.
21) Hadis tentang kaifiyyah pemakaian khuf saat melakukan perjalanan jauh. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâbal-Da‘âwât, al-Nasâ’î Kitâb al-Thahârah, Ibn Majah Kitâb al-Thahârah, dan Imam Ahmad.
22) Hadis ke-22 tentang tiadanya hijrah bagi kaum muslim di atas tiga hari. Diriwayatkan pula oleh al-Khathîb dalam Kitab Târîkh Baghdâd dan Ibn ‘Asâkir dalam Kitab Tahdzîb Târikh Dimasyq.
23) Hadis ke-23 tentang perasaan heran sahabat Sa’d saat melihat Rasulullah Saw memberikan sesuatu kepada seseorang lalu di lain waktu beliau tidak memberinya padahal seseorang tersebut muslim. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Îmân, Muslim Kitâb al-Îmân, Abû Dâwud Kitâb al-Sunnah, al-Nasâ’î Ktâb al-Îmân wa Syarâ’i‘ih, dan Imam Ahmad.
24) Hadis ke-24 tentang mimpi seorang saleh merupakan satu bagian dari 46 unsur kenabian. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Ta‘bîr.
25) Hadis tentang asbab wurûd bacaan Tasyahhud “التحيات لله....الح”. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Adzân, Muslim Kitâb al-Shalâh, Abû Dawûd Kitâb al-Shalâh, al-Nasâ’î Kitâb al-Tathbîq, Ibn Mâjah Kitâb Iqâmat al-Shalâh, al-Dârîmî Kitâb al-Shalâh, dan Imam Ahmad.
26) Hadis ke-26 tentang suruhan Rasulullah atas seorang perempuan yang ingin bertemu dengannya untuk menunggu. Diriwayatkan pula oleh Muslim Kitâb al-Fadhâ’il, Abû Dawud Kitâb al-Adab, Imam Ahmad, dan al-Baghâwî dalam Kitab Syarh al-Sunnah.
27) Hadis ke-27 tentang peringatan bagi orang yang meminta kembali pemberiannya dari orang lain. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Hibah dan Muslim Kitab al-Hibât.
28) Hadis ke-28 tentang anjuran Rasulullah Saw untuk membunuh ular. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb Bad’ al-Khalq, Muslim Kitâb al-Salâm, Abû Dâwud KItâb al-Adab, al-Tirmidzî Kitâb al-Ahkâm wa al-Fawâ’id, dan Ahmad.
29) Hadis ke-29 tentang keharusan iqamat bagi orang yang adzan, bukan selainnya. Diriwayatkan pula oleh Abû Dawud KItâb al-Shalah, al-Tirmîdzî Kitâb Abwâb al-Shalâh, Ibn Mâjah Kitâb al-Adzân, dan Imam Ahmad.
30) Hadis ke-30 tentang larangan membaca al-Qur’an bagi orang junub dan wanita haidh. Diriwayatkan pula oleh al-Tirmîdzî Kitâb al-Thahârah dan Ibn Mâjah Kitab al-Thahârah.
31) Hadis ke-31 tentang seorang anak perempuan yang dinikahi Rasulullah kemudian beliau talak karena ia berusaha menghindarinya karena takut. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Thalâq, al-Nasâ’î Kitâb al-Thalâq, dan Ibn Mâjah Kitâb al-Thalâq.
32) Hadis ke-32 tentang enam hal yang dapat memasukkan seorang muslim ke dalam surga. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan al-Thabrânî.
33) Hadis ke-33 tentang pahala orang yang memelihara kuda karena Allah Swt. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Jihâd, al-Nasâ’î Kitâb al-Khayl, dan Imam Ahmad.
34) Hadis ke-34 tentang cara Allah Swt mencabut ilmu dari alam dunia, yaitu dengan meninggalnya para ulama. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-‘Ilm, Muslim Kitâb al-‘Ilm, al-Tirmîdzî Kitâb al-‘Ilm, Ibn Mâjah dalam Muqaddimah, al-Dârîmî dalam Muqaddimah, dan Imam Ahmad.
35) Hadis ke-35 tentang hasad yang dibolehkan. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Tawhîd, Muslim Kitâb Shalât al-Musâfirîn, al-Tirmîdzî Kitâb al-Birr wa al-Shilah, al-Nasâ’î Kitab Fadhâil al-Qur’ân, Ibn Mâjah Kitâb al-Zuhd, dan Imam Ahmad.
36) Hadis ke-36 tentang status orang yang tidak melaksanakn shalat Ashar. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitâb al-Mawâqît, Muslim Kitab al-Masâjid, al-Tirmîdzî Kitab al-Shalâh, dan al-Nasâ’î Kitab al-Shalâh.
37) Hadis ke-37 tentang tata cara mandi besar. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhârî Kitab al-Ghusl, Muslim Kitâb al-Thahârah, Abû Dâwud Kitâb al-Thahârah, dan al-Nasâ’î Kitâb al-Ghusl.
38) Hadis ke-38 tentang Rasulullah Saw hujan-hujanan. Diriwayatkan pula oleh Muslim kitab al-Istisqâ’¸Abû Dâwud Kitâb al-Adâb, al-Nasâ’î Kitab al-Istisqâ’, dan Imam Ahmad.
39) Hadis ke-39 tentang meninggalnya putera Rasulullah Saw, Ibrahim. Diriwayatkan pula oleh al-Bukârî Kitâb al-Jnâ’iz, Bad’ al-Khalq, dan al-Adab.
40) Hadis ke- 40 tentang Rasulullah melanjutkan puasanya padahal saat Shubuh beliau dalam keadaan junub. Diriwayatkan pula oleh Muslim Kitâb al-Shiyâm dan al-Nasâ’î Kitab al-Shiyâm.
4. Kajian Ilmu hadis
Dalam bidang ilmu hadis, Ibn Taimiyyah sangat mapan dalam menjelaskan semua komponen-komponen hadis. Di antaranya sebagai berikut:
a. Hubungan validitas hadis dengan periwayatnya
ketika seseorang bertanya kepadanya tentang periwayat hadis dalam hubungannya dengan status hadis yang diriwayatkannya. Beliau menjawab bahwa periwayat hadis itu ada dua macam, periwayat yang diterima periwayatannya secara mutlak dan periwayat yang diterima periwayatannya namun terbatas. Penerimaan riwayatan seseorang secara mutlak diperuntukkan bagi mereka yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Menurut dugaan, periwayat tersebut terjamin bukan seorang pembohong.
2. Periwayat bersifat ‘adl dan tidak mempunyai keyakinan yang menyimpang sehingga membuatnya mudah membuat hadis palsu.
3. Periwayat memiliki ingatan yang kuat dan hafalan yang tajam.
Adapun periwayat yang diterima periwayatannya namun terbatas, disesuaikan dengan indikasi-indikasi yang terkandung di dalam hadis. Alasannya, karena semua hadis itu memiliki dzauq yang harus ditelaah lebih lanjut.
Disamping mampu mengemukakan kriteria-kriteria periwayat hadis yang boleh diterima periwayatannya dalam bentuk yang berbeda, ia juga mampu menganalisis secara tajam dan kritis komentar-komentar muhaddits terhadap suatu hadis atau definisi-definisi yang mereka lontarkan tentang istilah-istilah ilmu hadis. Misalnya, ia mengomentari pengklasifikasian hadis menjadi shahîh, hasan, dan dha‘îf oleh al-Tirmîdzî dengan menyatakan bahwa pengklasifikasian hadis seperti ini adalah pertama kalinya dalam dunia ilmu hadis. Al-Tirmîdzî adalah peletak utama klasifikasi hadis menjadi tiga bagian. Sebelumnya, belum ada seorang pun yang menyatakan teori ini. Al-Tirmîdzî mendefinisikan hadis hasan sebagai hadis yang jalur periwayatannya lebih dari satu namun kualitas periwayatnya dari sisi ‘adalah dan ke-dhabt-annya di bawah kriteria periwayat hadis shahîh. Adapun hadis dha‘îf , ia definisikan sebagai hadis yang di dalam sanadnya terdapat periwayat yang tertuduh dusta dan jelek ingatannya.
b. Kritik Terhadap Hasil
Ibn Taimiyyah adalah sosok ulama yang moderat serta tidak memihak ke sebelah tangan. Pendapat seseorang yang ia bela tidak membuatnya fanatis sehingga mengagung-agungkan orang yang ia bela. Begitupun sebaliknya, jika ia mengkritik pendapat seseorang tidak membuatnya menyimpan rasa benci sehingga menjelek-jelekannya setiap waktu. Namun, jika pada suatu saat ia temukan pendapat seorang ulama dikritik ulama lain, sedangkan dirinya sejalan dengan pendapat ulama yang dikritik tersebut, ia mampu menjelaskannya dengan gamblang kepada sang pengkritik. Ia mampu membuktikan kesalahfahaman orang yang dihadapinya. Akan tetapi, pembelaannya terhadap orang yang dikritik tidak menghalanginya unutk menyatakan pendapat yang berbeda dengannya. Misalnya, setelah Ibn Taimiyyah memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada al-Tirmîdzî atas penemuan yang dihasilkannya dalam bidang ilmu hadis bahwa hadis itu terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu hadis shahîh, hasan, dan dhaîf, ia mendukung pendapat para ulama yang mengkritik penetapan status dhaîf oleh al-Tirmîdzî pada salah satu hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhârî. Hadis tersebut adalah:
حدثنا أبو نعيم قال: حدثنا زهير عن أبي إسحاق قال: ليس أبو عبيدة ذكره ولكن عبد الرحمن بن الأسود عن أبيه أنه سمع عبد الله يقول: أتى النبي صلى الله عليه وسلم الغائط، فامرني أن آتيه بثلاثة أحجار، فوجدت حجرين، والتمست الثالث فلم أجده، فأخذت روثة فأتيته بها، فأخذ الحجرين وألقى الروثة وقال: "هذا ركس."
Masalah yang terkandung dalam hadis di atas sehingga membuat al-Tirmidzî menghukuminya sebagai hadis dhaîf adalah perbedaan sumber yang diduga dilakukan oleh Abu Ishâq. Al-Tirmidzî menganggap bahwa perbedaan seperti ini merupakan ‘illat yang dapat merusak validitas hadis. Ia lebih mengunggulkan hadis yang diriwayatkannya melalui jalur Abû ‘Ubaidah yang diterimanya dari ayahnya padahal sebenarnya Abu Ubaidah tidak menerima hadis tersebut dari ayahnya.
Kemudian Ibn Taimiyyah mengomentari permasalahan tersebut dengan pernyataannya sebagai berikut:
“Imam al-Bukhârî menetapkan kevalidan hadis tersebut dengan melihat riwayat Abu Ishâk dari jalur lain. Abu Ishâq pada suatu kesempatan menerima riwayat dari sekelompok orang, lalu pada kesempatan lain ia menerimanya dari kelompok orang yang berbeda. Seperti halnya al-Zuhrî, pada satu kesempatan ia menerima hadis dari Sa‘îd bin al-Musayyib, sedangkan di kesempatan lain ia menerimanya dari Abû Salamah. Terkadang pada suatu saat, al-Zuhrî mencoba menggabungkan riwayat yang ia terima dari kedua gurunya tersebut. Oleh karena itu, orang yang tidak mengetahui proses seperti ini, akan menganggap bahwa telah terjadi kesalahan dalam periwayatan seseorang yang tidak konsisten menyatakan sumber hadis yang diterimanya. Padahal semua hadis yang diriwayatkannya berstatus shahîh”
Ia berhasil mencetak banyak sarjana muslim terkenal pada masanya, seperti Ibn Qayyim al-Jauziyyah , Ibn Katsîr , al-Dzahabî , dan masih banyak lagi alumni-alumni beliau yang telah melahirkan karya-karya fenomenal dalam khazanah kejayaan ilmu pengetahuanز

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Anggapan Ibn Taimiyyah sebagai seorang muhaddits bukanlah merupakan sebuah wacana saja. Para ulama semasanya dan setelahnya telah membuktikan kredibilitas beliau dalam hadis dan ilmu hadis. Mereka buktikan secara ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan khususnya dalam lapangan akademis. Bahkan, seorang dosen Universitas Uni Emirat Arab, DR. Ahmad bin Muhammad al-‘Alîmî mampu membuktikan secara ilmiah dengan meramu berbagai pendapat ulama atas kepantasan Ibn Taimiyyah menyandang gelar muhaddits.
DAFTAR PUSTAKA


Al-Bukhârî. Shahîh al-Bukhârî. Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007.

al-Dzahabî. Al-Mu‘ayyan fî Thabaqâth al-Muhadditsîn. T.tp: Dâr al-Furqân, 1984.

Al-Dzahabî. Tadzkirah al-Huffâzhh. Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ìlmiyyah, 1958.

al-Faryawâ’î , Abdurrahman bin ‘Abd al-Jabbâr. Syaikh al-Islâm Ibn Taimiyyah wa Juhûduh fî al-Hadîts wa ‘Ulûmih. T.tp: Dâr al-‘Âshimah, T.t.

al-Hâdî, Ibn ‘Abd. Ikhtiyârât Syaikh al-Islâm Ibn Taimiyyah. Dâr ‘Ilm al-Fawâ’id, 2001.

Ibn Taimiyyah. Majmû‘ al-Fatâwâ. T.tp: Dâr al-Wafâ’, 2005.

Qâsim, Abd al-Rahmân bin dan Ibn Muhammad. Majmû‘ Fatawâ Syaikh al-Islâm Ibn Taimiyyah. Beirut: Dâr al-‘Arabiyyah, 1976.

al-‘Alîmî Muhammad, Ahmad. Ibn Taimiyyah Muhadditsan. Beirut: Dâr Ibn Hazm, 2002.

al-‘Asqalânî, Ibn Hajar. Tarjamah Syaikh al-Islâm Ibn Taimiyyah. Beirut: Dâr Ibn Hazm, 1998.
LEBIH LENGKAP DOWNLOAD DI SINI

Komentar