ASPEK NEUROLOGI BAHASA (الأسس العصبية للغة)



(الأسس العصبية للغة)
ASPEK NEUROLOGI BAHASA

DOWNLOAD VERSI MS WORD DI SINI
A.      SISTEM SARAF (الجهاز العصبي)
Sistem saraf manusia terbagi ke dalam dua kategori:
1.         Saraf Sadar
Saraf yang bersifat sadar terdiri atas:
a.    Saraf pusat (الجهاز العصبي المركزي)
Saraf pusat terdiri atas dua komponen:

1)        Otak  (الدماغ)
Otak terletak di rongga tengkorak dan dibungkus oleh tiga lapis selaput kuat yang disebut meninges:
a)    Selaput paling luar disebut duramater (الأم الجافية)
b)   Selaput tengah disebut arachnoid (غشاء العنكبوتية)
c)    Selaput paling dalam disebut piamater (الأم الحنون).
Otak terdiri dari tiga bagian:
a)   Otak besar (cerebrum/المخ)
Otak besar terletak di dalam tulang tengkorak dan memiliki  permukaan yang berlipat-lipat serta terbagi atas dua belahan:
1.        Belahan otak kiri yang bertugas melayani tubuh sebalah kanan.
2.        Belahan otak kanan yang bertugas melayani tubuh sebelah kiri. [1]
Otak besar berfungsi sebagai pusat kegiatan-kegiatan yang disadari, seperti berfikir, mengingat, berbicara, melihat, mendengar, dan bergerak.
b)   Otak kecil (cerebellum/مخيخ)
Otak kecil terletak di bawah otak besar bagian belakang dan terdiri dari atas dua belahan: belahan kanan dan kiri yang dihubungkan dengan jembatan varol (قنطرة فارول).
Otak kecil berfungsi mengatur keseimbangan tubuh dan mengkoordinasi kerja otot-otot ketika bergerak.
c)    Sumsum lanjutan (النخاع المستطيل)
Sumsum lanjutan membentuk bagian bawah batang otak serta menghubungkan pons Varoli dengan sumsum tulang belakang.
Sumsum tulang belakang berfungsi:
1.        Sebagai pusat pengendali pernapasan,
2.        Menyempitkan pembuluh darah,
3.        Mengatur denyut jantung,
4.        Mengatur suhu tubuh.
2)        Sumsum tulang belakang (medulla spinalis/النخاع الشوكي)
Sumsum tulang belakang terdapat memanjang di dalam rongga tulang belakang, mulai dari ruas-ruas tulang leher sampai ruas tulang pinggang ke dua. Sumsum tulang belakang juga dibungkus oleh selaput meninges.[2]
Sumsum tulang belakang berfungsi untuk:
a)    Menghantarkan impuls dari dan ke otak,
b)   Memberi kemungkinan jalan terpendek (gerak refleks/العمل الإرادي).
3)        Saraf tepi  (الأعصاب الفرعية)
Saraf tepi terdiri atas:
a)        12 pasang saraf otak (الأعصاب المخية 12 زوجا).
Saraf otak terdapat pada bagian kepala yang keluar dari otak dan melewati lubang yang terdapat pada tulang tengkorak. Saraf otak (saraf cranial) terdapat pada bagian kepala yang keluar dari otak dan melewati lubang yang terdapat pada tulang tengkorak.
Saraf ini berhubungan erat dengan otot mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit.
Saraf cranial berfungsi menerima pesan dari sumsum tulang belakang dan mengirimnya ke organ tubuh dan kelenjar
b)       31 pasang saraf sumsum tulang belakang (الأعصاب النخاعية الشوكية 31 زوجا).
Saraf sumsum tulang belakang (saraf spinal) berjumlah 31 pasang yang keluar dari:
1.    ruas-ruas tulang leher berjumlah 8 pasang
2.    ruas-ruas tulang punggung berjumlah 12 pasang
3.    ruas-ruas tulang pinggang berjumlah 5 pasang
4.    ruas-ruas tulang kelangkang berjumlah 5 pasang
5.    ruas-ruas tulang ekor berjumlah 1 pasang.
Saraf Spinal berfungsi mengirim pesan ke sumsum tulang belakang dari organ tubuh dan kelenjar.
2.         Saraf tidak sadar (Autonom/الجهاز العصبي التلقائي)
Saraf yang bersifat tak sadar terdiri atas:
a.    Saraf simpatik ((الجهاز العصبي التعاطفي
b.   Saraf parasimpatik (الجهاز العصبي التعاطفي)
Sistem saraf autonom mengendalikan kegiatan organ-organ dalam seperti alat pernafasan (الجهاز التنفسي), pupil mata (حدقة العين), jantung (القلب), pembuluh darah (الأوعية الدموية)dan alat-alat ekskresi dan reproduksi (المثانة والأعضاء التناسلية).
Kedua saraf ini bekerja antagonis (مضاد لعمل الآخر). Berikut ini perbandingannya:
Tabel Sistem Cara Kerja Simpatik dan Parasimpatik
نتيجة تأثير الجهاز العصبي نظير التعاطفي عليه
نتيجة تأثير الجهاز
العصبي التعاطفي عليه
إسم العضو
تقل سرعته
تزيد سرعته
القلب
تزيد سرعته
تقل سرعته
التنفس
انقياض هذه المعضلات
ارتخاء عضلات الفناة الهضمية
الجهاز الهضمي
ضيق حدقة العين
توسيع حدقة العين
العين
انقباض عضلات المثانة وارتخاء عضلات الأوعية الدموية وتوسيعها في الأعضاء التناسلية مما يسبب الانتصاب
ارتخاء عضلات المثانة
المثانة والأعضاء
التناسلية



















B.       FUNGSI KEBAHASAAN OTAK
Otak terbagi dua bagian utama:
1.         Hemisfir kanan
Hemisfir kanan mengendalikan semua anggota tubuh yang ada di sebelah kiri, termasuk muka bagian kiri.
2.         Hemisfir kiri
Hemisfir kiri mengendalikan semua anggota tubuh yang ada di sebelah kanan, termasuk muka bagian kanan.[3]
Tiap hemisfer terbagi dalam beberapa bagian besar yang disebut lobus, yaitu:
a.       Lobus frontalis
b.      Lobus parietalis
c.       Lobus oksipitalis
d.      Lobus temporalis.
Fungsi bicara-bahasa dipusatkan pada hemisfer kiri bagi orang yang tidak kidal. Hemisfer kiri disebut juga hemisfer dominan bagi bahasa, dan korteksnya dinamakan korteks bahasa.
Korteks pada otak manusia memiliki berat 13 gram yang mengandung 9 juta urat saraf. Fungsi utama semua urat saraf ini adalah berperan dalam semua aktivitas pengiriman dan penerimaan pesan (impuls) melalui sistem saraf.  

C.      PUSAT-PUSAT PENGOLAH BAHASA DI DALAM OTAK ((مراكز اللغة في المخ
Otak manusia memiliki 4 pusat kebahasaan:
1.      Pusat Wicara (مركز التكلم)
     Letak: dekat daerah penggerak tubuh (منطقة الحركة)
2.      Pusat Kemampuan Menulis (مركز الكتابة)
     Letak: dekat daerah penggerak tubuh (منطقة الحركة)
3.      Pusat Pengolahan Kata-kata yang terdengar (مركز الكلمات المسموعة)
     Letak: dekat daerah pendengaran (منطقة السمع)
4.      Pusat Pengolahan Kata-kata yang terlihat  (مركز الكلمات المرئية)
     Letak: dekat daerah penglihatan (منطقة البصر)
D.      KETERKAITAN KEMAMPUAN BERBAHASA DENGAN KAPASITAS OTAK (العلاقة بين اللغة وحجم الدماغ)
Kapasitas otak (حجم الدماغ) tidak berpengaruh terhadap kompetensi dan performa manusia dalam berbahasa.
Manusia kerdil (الأقزم) mampu berbahasa dengan baik sebagaimana manusia normal bahkan mereka mampu menguasai lebih dari satu bahasa.
E.       KAITAN BAHASA DENGAN GANGGUAN OTAK (العلاقة بين اللغة وتلف المخ)
Otak memiliki banyak pembuluh darah. Jika pembuluh darah tersebut pecah, tersumbat, atau kekurangan oksigen, maka akan otak akan mengalami stroke. Stroke pada hemisfir kiri akan menyebabkan gangguan pada belahan badan sebelah kanan. Begitupun sebaliknya.
Umumnya, kerusakan pada hemisfir kiri akan mengakibatkan gangguan wicara. Gangguan wicara yang disebabkan oleh stroke dinamakan afasia.
Terdapat beberapa macam afasia, tergantung pada daerah hemisfir mana yang terkena stroke:
1.      Afasia Broca (حبسة بروكا): kerusakan terjadi pada daerah broca. Broca berdekatan dengan jalur korteks motor sehingga terjadi gangguan pada alat ujar, temasuk bentuk mulut.
Penyakit ini menyebabkan gangguan pada perencanaan dan pengungkapan ujaran sehingga kalimat yang diproduksi terpatah-patah. (Soenjono, 2010: 214)
2.      Afasia Wernicke (حبسة فيرنيكه): kerusakan terjadi pada wernicke. Wernicke terletak di bagian agak belakang dari lobe temporal.
Penyakit ini menyebabkan penutur tidak dapat memilih kata dengan baik (diksi).
3.      Afasia anomik (حبسة التسمية): kerusakan terjadi pada bagian depan dari lobe parietal atau pada batas antara lobe parietal (الفص الجداري) dengan lobe temporal (الفص الصدغي).
Penyakit ini menyebabkan ketidakmampuan penutur mengaitkan konsep dengan bunyi.[4]
4.      Afasia global: kerusakan terjadi pada beberapa daerah di samping wernice dan broca.
Penyakit ini menyebabkan gangguan fisikal dan verbal yang sangat besar. Dari segi fisik, tubuh bagian kanan lumpuh, mulut mencong, dan lidah tidak cukup fleksibel. Dari segi verbal, penutur mengalami kesukaran memahami ujaran orang lain.
5.      Afasia konduksi (حبسة التوصيل): kerusakan terjadi pada fiebr-fiber yang ada pada fasikulus arkuat yang menghubungkan lobe frontal (الفص الجبهي)  dengan lobe temporal (الفص الصدغي).
Penyakit ini menyebabkan penderita tidak dapat mengulangi kata yang baru saja diutarakan kepadanya.
6.      Disartria (رتة) : kerusakan terjadi pada korteks motor (القشرة الحركية).
Penyakit ini menyebabkan perubahan pada lidah, bibir, dan rahang.




F.       DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. Psikolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Dardjowidjojo, Soenjono. Psikolinguistik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.
Ganawati, Dewi.  Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu dan Kontekstual IX untuk SMP dan MTs. Jakarta: Karya Mandiri Nusantara, 2008.
Kuswanti, Nur, dkk.  Ilmu Pengetahuan Alam SMP. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2008.


 



[1] Dewi Ganawati, Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu dan Kontekstual IX untuk SMP dan MTs (Jakarta: Karya Mandiri Nusantara, 2008), h. 39
[2] Dewi Ganawati, Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, h. 40
[3] Abdul Chaer, Psikolinguistik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 116
[4] Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), h. 214

Komentar

Posting Komentar