TASAWUF AKHLAQÎ



TASAWUF AKHLAQÎ

BAB I
PENDAHULUAN

Aliran  tasawuf secara garis besar terbagi dua bagian, yaitu tasawuf akhlâqî dan tasawuf falsafî. Tasawuf akhlâqî mendasarkan semua ajaran, baik ibadah maupun akidah kepada al-Qur’an dan al-Sunnah tanpa melibatkan ajaran-ajaran filsafat. Sedangkan, tasawuf falsafî mendasarkan sepak terjangnya dalam  mencapai kebenaran hakiki, selain menggunakan al-Qur’an dan al-Sunnah, juga melibatkan ajaran-ajaran filsafat, terutama filsafat Yunani yang sangat gencar digandrungi para cendikiawan muslim pada saat awal mula munculnya aliran tasawuf ini.

Namun, dalam prosesnya, kedua aliran tasawuf ini saling serang satu sama lain. Penganut aliran tasawuf akhlâqî menganggap bahwa untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki itu harus mendasarkannya pada petunjuk Allah Swt dan rasul-Nya, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah serta tidak boleh dicampurbaurkan dengan ajaran-ajaran filsafat yang kebenarannya sangat relatif karena muncul dari pendapat akal manusia. Pendapat manusia yang tidak mendasarkan asas berfikirnya pada petunjuk Allah Swt dan Rasul-Nya, seperti filsafat yunani, sangat rentan terhadap pengaruh bisikan-bisikan setan dalam memahami kebenaran. Sehingga, banyak pemikiran-pemikiran filsafat yang bertolak belakang dengan ajaran Islam sesungguhnya yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah. Bahkan telah meracuni sebagian kaum muslim yang sedang berupaya mendekati tuhannya. Oleh sebab itu, banyak terjadi peristiwa penjatuhan hukuman mati terhadap sebagian penganut aliran tasawuf falsafi di masa kekuasaan pemerintahann Islam yang cenderung memihak penganut aliran tasawuf akhlâqî.
Sebaliknya, penganut aliran tasawuf falsafi mengecam keras atas sikap sebagian kaum muslim yang berpikiran kaku, terikat erat dengan dogma-dogma agama yang dilontarkan oleh sebagian ilmuwan muslim. Padahal, secara tidak sadar, mereka telah melibatkan akalnya dalam menghasilkan ajaran-ajarannya dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Selain itu, dengan melihat posisi akal yang hanya ada dalam diri manusia dan merupakan satu-satunya pembeda antara manusia dengan makhluk Allah lainnya serta terdapat dalil naqli yang memperkuat keutamaan akal ini, memanglah pantas akal ikut terlibat dalam proses pengabdian sebagai hamba terhadap tuhannya. Banyak dalil naqli dalam al-Qur’an yang menghadirkan kisah-kisah, bahkan Allah Swt sendiri menekankan secara tegas bahwa akal manusia itu adalah suatu karunia maha besar sehingga harus digunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai kebenaran hakiki.
Selama ratusan tahun, sejak kemunculan aliran tasawuf falsafi, perdebatan tentang tasawuf akhlâqî dan tasawuf falsafî  tak pernah mencapai benang merah yang dapat menyatukan keduanya. Oleh karena itu, harapan besar berada di atas pundak generasi muslim masa kini untuk mewujudkannya. Untuk mengantarkan ke dalam penyelesaian konflik berkepanjangan ini, penulis akan sedikit menjelaskan tentang sepak terjang tasawuf akhlâqî yang meliputi definisi tasawuf akhlâqî, karakteristik dan ajaran-ajarannya, serta tokoh-tokoh muslim pengusung aliran tasawuf akhlâqî ini.

           
           












BAB II
PEMBAHASAN

Menurut Amin syukur, ada dua aliran dalam tasawuf. pertama, aliran tasawuf Sunni, yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan al-Qur’an dan hadis secara ketat serta mengaitkan ahwâl (keadaan) dan maqâmat (tingkatan rohani) mereka kepada dua sumber tersebut. Kedua, aliran tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat kompromi, dalam pemakaian terma-terma filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf yang berbau filsafat ini tidak sepenuhnya dapat dikatakan tasawuf dan juga tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai filsafat.[1]
A.  AJARAN TASAWUF AKHLÂQÎ
Bagian terpenting dari tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dengan tuhan sehingga merasa dan sadar berada di hadapan tuhan. Keberadaan di hadapan tuhan itu dirasakan sebagai kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki. “ Pertemuan” dengan tuhan merupakan puncak kebahagiaan yang dilukiskan dalam sebuah hadis sebagai “sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata”.[2]
Semua sufi berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat menghantarkan seseorang ke hadirat Allah Swt hanyalah dengan kesucian jiwa. Karena jiwa manusia merupakan refleksi atau pancaran dari pada Dzat Allah yang suci, segala sesuatu itu harus sempurna (perfection) dan suci, sekalipun tingkat kesucian dan kesempurnaan itu bervariasi menurut dekat dan jauhnya dari sumber aslinya.
Untuk mencapai tingkat kesempurnaan dan kesucian, jiwa memerlukan pendidikan dan latihan mental yang panjang. Oleh karena itu, pada tahap pertama, teori dan amalan tasawuf diformulasikan dalam bentuk pengaturan sikap mental dan pendisiplinan tingkah laku yang ketat. Dengan kata lain, untuk berada di hadirat Allah dan sekaligus mencapai tingkat kebahagiaan yang optimum, manusia harus lebih dulu mengidentifikasikan eksistensi dirinya dengan ciri-ciri ketuhanan melalui penyucian jiwa raga yang bermula dari pembentukan pribadi yang bermoral paripurna dan berakhlak mulia.
Untuk itu, dalam tasawuf akhlâqî, sistem pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:
1.        Takhallî (Penarikan Diri)
Takhallî merupakan langkah pertama yang harus dijalani seorang sufi. Sang hamba yang menginginkan kedekatan dengan Allah Swt harus menarik diri dari segala sesuatu yang mengalihkan perhatiannya dari Allah Swt.[3] Sesuatu itu adalah kehidupan dunia. Para sufi berbeda pendapat dalam memahami Takhallî ini. Sekelompok sufi yang moderat berpendapat bahwa dalam menghadapi kehidupan ini cukup  sekadar tidak melupakan tujuan hidup. Sementara itu, kelompok sufi yang ekstrim berkeyakinan bahwa kehidupan duniawi sangat meracuni kelangsungan cita-cita sufi. Bagi mereka, cara memperoleh keridhaan tuhan tidak sama dengan cara memperoleh kehidupan material.[4]
2.        Tahallî (Berhias)
Tahallî adalah upaya mengisi atau menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sifat-sifat Allah Swt. Namun, perhiasan paling sempurna dan murni bagi hamba-Nya adalah berhias dengan sifat-sifat penghambaan (‘ubûdiyyah).[5] Tahapan Tahallî dilakukan kaum sufi setelah jiwa dikosongkan dari akhlak-akhlak jelek. Pada tahap Tahallî, kaum sufi berusaha agar setiap gerak perilaku selalu  berjalan diatas ketentuan agama, baik kewajiban yang bersifat luar maupun yang bersifat dalam. Aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal, seperti salat, puasa, dan haji, sedangkan aspek “dalam” seperi iman, ketaatan, dan kecintaan kepada tuhan.[6]
Sikap mental dan perbuatan baik yang sangat penting diisikan ke dalam jiwa manusia dan dibiasakan dalam perbuatan dalam rangka pembentukan manusia paripurna, antara lain sebagai berikut:
  1. Taubat
Taubat adalah rasa penyesalan yang sungguh-sungguh dalam hati dan disertai permohonan ampun serta meninggalkan segala perbuatan yang menimbulkan dosa. Sa‘îd Harûn ‘Âsyûr menyebutkan tiga syarat penerimaan taubat dari perbuatan dosa, yaitu:
1.      Menghentikan seketika itu pula perbuatan dosa yang sedang dilakukan.
2.      Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dilakukan.
3.      Bertekad kuat untuk tidak melakukan kembali perbuatan dosa. Agar tekad ini terpelihara dengan baik sehingga tidak kembali melakukan perbuatan dosa, ada empat cara yang perlu dilakukan, yaitu:
1.    Berdoa kepada Allah Swt agar memberinya pertolongan dalam menjauhkan diri dari melakukan perbuatan dosa.
2.    Menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat mendorong melakukan perbuatan dosa.
3.    Sering menghadiri pengajian-pengajian agama.
4.    Selalu berteman dengan orang-orang saleh.[7]
Sementara itu, Al-Ghazali mengklasifikasikan taubat ke dalam tiga tingkatan[8]:
1.    Meninggalkan kejahatan dalam segala bentuknya dan beralih kepada kebaikan karena takut kepada siksa Allah.
2.    Beralih dari satu situasi yang sudah baik menuju kesituasi yang lebih baik lagi.
3.    Rasa penyesalan yang dilakukan semata-mata karena ketaatan dan kecintaan kepada Allah.
  1. Cemas dan Harap ( Khauf dan Rajâ’)
Sikap mental rasa cemas (khauf) dan harap (rajâ’), merupakan salah satu ajaran tasawuf yang selalu dikaitkan kepada al-Hasan Al-Bashrî (wafat tahun 110 H). karena, secara historis memang, dialah yang pertama kali memunculkan ajaran ini sebagai ciri kehidupan sufi. Menurut Al-Bashrî, yang dimaksud dengan cemas atau takut adalah suatu perasaan yang timbul karena banyak berbuat salah dan sering lalai kepada allah. Karena sering menyadari kekurangsempurnaannya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa takut, khawatir kalau-kalau Allah akan murka kepadanya.[9]
Rasa takut itu akan mendorong seseorang untuk mempertinggi nilai dan kadar pengabdiannya dengan harap (rajâ’) ampunan dan anugerah Allah. Oleh karena itu, ajaran khauf dan rajâ’ merupakan sifat mental yang bersifat introspeksi, mawas diri, dan selalu memikirkan kehidupan yang akan datang, yaitu kehidupan abadi.
  1. Zuhud
Telah terjadi pemahaman dan penafsiran yang beragam terhadap zuhud. Secara  umum zuhud dapat diartikan sebagai suatu sikap melepaskan diri dari rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dan mengutamakan kehidupan akhirat. Para sufi berlainan pendapat dalam menentukan batasan zuhud. Al-Ghazali, misalnya, mengartikan zuhud sebagai sikap mengurangi keterikatan kepada dunia untuk kemudian menjauhinya dengan penuh kesadaran.[10] Al-Sayyid Abu Bakar mengatakan:
من يطلبن ما ليس يعنيه فقد         فات الذي يعينه من غير ائتلا
“Dengan sendirinya, siapa yang mencari sesuatu tiada berguna, akan kehilangan sesuatu yang berguna”
Al-Qusyairi mengartikan zuhud sebagai suatu sikap menerima rezeki yang diterimanya. Jika makmur, ia tidak merasa bangga dan gembira. Apabila miskin, ia pun tidak bersedih karenanya. Lain halnya dengan Hasan Al- Bashri mengatakan bahwa zuhud itu meninggalkan kehidupan dunia, karena dunia ini tidak ubahnya seperti ular, licin apabila dipegang, tetapi racunnya dapat membunuh.[11]
  1. Al-Faqr
Istilah Al-Faqr bermakna tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai dan merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki, sehingga tidak meminta sesuatu yang lain. Sikap mental faqr merupakan benteng pertahanan yang kuat dalam menghadapi pengaruh kehidupan materi. Sebab, sikap mental ini akan menghindarkan seseorang dari keserakahan. Dengan demikian, pada prinsipnya, sikap mental faqr merupakan rentetan sikap zuhud. Hanya saja, zuhud lebih keras menghadapi kehidupan duniawi, sedangkan faqr sekadar pendisiplinan diri dalam mencari dan memanfaatkan fasilitas hidup.
Sikap faqr selanjutnya akan memunculkan sikap wara’. Wara’ menurut para sufi adalah sikap berhati-hati dalam menghadapi segala sesuatu yang kurang jelas masalahnya. Apabila bertemu dengan satu persoalan, baik yang bersifat materi maupun nonmateri yang tidak pasti hukumnya atau tidak jelas asal-usulnya, lebih baik menghindari atau meninggalkannya.
  1. Sabar
Salah satu sikap mental yang fundamental bagi seorang sufi adalah sabar. Sabar diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekuen dalam pendirian. Jiwanya tidak tergoyahkan; pendiriannya tidak berubah bagaimanapun berat tantangan yang dihadapi; pantang mundur dan tak kenal menyerah. Sikap sabar dilandasi oleh anggapan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan kehendak tuhan.[12]
Tercapainya karakter sabar merupakan respons dari keyakinan yang dipertahankan. Dengan kata lain, keyakinan adalah landasan sabar. Apabila telah yakin bahwa jaln yang ditempuh benar, seseorang akan teguh dalam pendiriannya walaupun aral melintang di hadapannya. Karena banyak gangguan yang dapat mempengaruhi kestabilan jiwa, al-Ghazali membedakan tingkatan-tingkatan sabar. Apabila ketahanan mental dihadapkan pada penanggulangan hawa nafsu, perut, dan seksual, kemampuan mengatasinya disebut “iffah”. Kesanggupan seseorang menguasai diri agar tidak marah dinamakan “hilm”. Ketabahan hati untuk menerima nasib dinamakan “qanâ’ah”, sedangkan yang bersifat pantang menyerah dan satria dikatakan “syajâ’ah”.[13]
  1. Ridha.
Sikap mental ridha merupakan kelanjutan rasa cinta atau perpaduan dari mahabbah dan sabar. Istilah ridha mengandung pengertian menerima dengan lapang dada dan hati terbuka terhadap apa saja yang dating dari Allah, baik dalam menerima serta melaksanakan ketentuan-ketentuan agama maupun yang berkenaan dengan masalah nasib dirinya.
Rasa cinta yang diperkuat dengan ketabahan akan menimbulkan kelapangan hati dan kesediaan yang tulus untuk berkorban dan berbuat apa saja yang diperintahkan oleh yang dicintai. Rela menuruti apa yang dikehendaki Allah tanpa ada merasa dipaksa, tidak dibarengi sikap oposisi, dan tidak pula terlintas rasa menyesali nasib yang dialami.
  1. Murâqabah.
Seorang calon sufi sejak awal sudah diajarkan bahwa dirinya tidak pernah lepas dari penguasaan Allah. Seluruh aktivitas hidunya ditujukan untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Ia tahu dan sadar bahwa Allah “memandang” kepadanya. Kesadaran itu membawanya pada satu sikap mawas diri atau muraqabah. Kata ini mempunyai arti yang mirip dengan introspeksi atau self correction. Dengan kalimat yang lebih populer dapat dikatakan bahwa muraqabah adalah setiap saat siap dan siaga meneliti keadaan diri sendiri.[14]
3.        Tajallî (Penyingkapan Diri)
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, rangkaian pendidikan akhlak disempurnakan pada fase Tajallî. Tajallî merupakan tanda-tanda yang Allah Swt tanamkan di dalam diri manusia supaya dapat menyaksikan-Nya.[15]Syeikh Zakaria al-Anshârî dalam salah satu komentarnya (hawamisy) di dalam Kitab al-Risâlah al-Qusyairiyyah  mendefinisikan Tajallî sebagai bentuk sirnanya hijab sifat-sifat kemanusiaan disertai dengan tersingkapnya alam ketuhanan.[16]
Para sufi sependapat bahwa tingkat kesempurnaan kesucian jiwa hanya dapat ditempuh dengan satu jalan, yaitu cinta kepada Allah dan memperdalam rasa kecintaan itu. Dengan kesucian jiwa, jalan untuk mencapai tuhan akan terbuka. Tanpa jalan ini, tidak ada kemungkinan terlaksananya tujuan dan perbuatan yang dilakukan pun tidak dianggap sebagai perbuatan yang baik.
B.  KARAKTERISTIKNYA TASAWUF AKHLÂQÎ.
Tasawuf akhlâqî yang terus berkembang semenjak zaman klasik islam hingga zaman modern sekarang sering digandrungi orang karena penampilan paham atau ajaran-ajarannya yang tidak terlalu rumit. Tasawuf jenis ini banyak berkembang di dunia islam, terutama di Negara-negara yang dominan bermazhab Syafi’i.
Adapun cirri-ciri tasawuf akhlâqî antara lain:
  1. melandaskan diri pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tasawuf jenis ini, dalam pengejawantahan ajaran-ajarannya, cenderung memakai landasan Qurani dan Hadist sebagai kerangka pendekatannya. Mereka tidak mau menerjunkan pahamnya pada pada konteks yang berada di luar pembahasan Al-Qur’an dan hadist. Al-Qur’an dan Hadist yang mereka pahami, kalaupun harus ada penafsiran, penafsiran itu sifatnya hanya sekadarnya dan tidak begitu mendalam.
  2. tidak menggunakan terminologi-terminologi sebagaimana terdapat pada ungkapan-ungkapan syathahat. Terminologi-terminologi dikembangkan tasawuf sunni lebih transparan, sehingga tidak kerap bergelut dengan terma-terma syathahat. Kalaupun ada tema yang mirip syathahat, itu dianggapnya merupakan pengalaman pribadi, dan mereka tidak menyebarkannya kepada orang lain. Pengalaman yang ditemukannya itu mereka anggap pula sebagai sebuah karamah atau keajaiban yang mereka temui. Sejalan dengan ini, Ibnu Khaldun, sebagaimana dikutip Al-Taftazani, memuji para pengikut Al-Qusyairî yang beraliran Sunni, karena dalam aspek ini, mereka memang meneladani para sahabat dan tokoh angkatan salaf telah banyak terjadi kekeramatan seperti ini.
  3. Lebih bersifat mengajarkan dualisme dalam hubungan antara tuhan dan manusia. Dualisme yang dimaksudkan disini adalah ajaran yang mengakui bahwa meskipun manusia dapat berhubungan dengan tuhan, hubungannya tetap dalam  kerangka yang berbeda di antara keduanya, dalam hal esensinya. Sedekat apapun manusia dengan tuhannya tidak lantas membuat manusia dapat menyatu dengan tuhan.Al-Qur’an dan Hadist dengan jelas menyebutkan bahwa “inti”mahluk adalah “bentuk lain” dari Allah. Hubungan antara sang pencipta dan yang diciptakan bukanlah merupakan salah satu persamaan, tetapi “bentuk lain”. Benda yang diciptakan adalah bentuk lain dari penciptaannya. Hal ini tentunya berbeda dengan paham-paham tasawuf filosofis yang terkenal dengan ungkapan-ungkapan keganjilannya. Kaum sufi Sunni menolak ungkapan-unkapan ganjil seperti yang dikemukakan Abu Yazid Al-Busthami dengan teori fanâ’ dan baqâ’-nya, Al-Hallaj dengan konsep hulûl-nya dan Ibnu Arabi dengan konsep wahdatul wujûd-nya.
  4. Kesinambungan antara hakikat dengan syariat. Dalam pengertian lebih khusus, keterkaitan antara tasawuf (sebagai aspek batiniah-nya) dengan fikih (sebagai aspek lahirnya). Hal ini merupakan konsekuensi dari paham di atas. Karena berbeda dengan tuhan, manusia dalam berkomunikasi dengan tuhan tetap berada pada posisi atau kedudukannya sebagai objek penerima informasi dari tuhan. Kaum sufi dari kalangan Sunni tetap memandang penting persoalan-persoalan lahiriah-formal, seperti aturan-aturan yang dianut fuqahâ. Aturan-aturan itu bahkan sering dianggap sebagai jembatan untuk berhubungan dengan tuhan.
  5. Lebih terkonsentrasi pada soal pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan cara riyâdhah (latihan mental) dan langkah takhallî, tahallî, dan tajallî.
C.  TOKOH- TOKOH TASAWUF AKHLÂQÎ
  1. Al-Hasan Al-Bashrî (632-728 H)
Al-Hasan Al-Bashrî, bernama lengkap Abu Sa’id Al-Hasan bin Yasar. Beliau adalah seorang zahid yang amat masyhur di kalangan tabi’in. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H (632 M) dan wafat pada hari Kamis, 10 Rajab 110 H (728 M). Beliau dilahirkan dua malam sebelum Khalifah Umar bin al-Khaththâb wafat. Ia dikabarkan bertemu dengan 70 orang sahabat yang turut menyaksikan peperangan Badr dan 300 sahabat lainnya.
Karier pendidikan al-Hasan Al-Bashrî dimulai dari Hijaz. Ia berguru hampir kepada seluruh ulama disana. Bersama ayahnya, ia kemudian pindah ke Bashrah, tempat yang membuatnya masyhur dengan nama Hasan Al-Bashrî. Puncak keilmuannya ia peroleh disana.
Dialah yang mula-mula menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlak, dan usaha menyucikan jiwa di masjid bashrah. Ajaran-ajarannya tentang kerohanian senantiasa didasarkan pada sunnah nabi.
  1. Al-Muhâsibî ( 165-243 H)
a.      Biografi Singkat
Nama lengkapnya Abu ‘Abdillah Al-Hârits bin Asad Al-Bashrî Al-Baghdadi Al-Muhâsibî. Tokoh sufi ini lebih dikenal dengan sebutan Al-Muhâsibî karena beliau sering melakukan muhâsabah al-nafs (evaluasi diri).[17] Ia dilahirkan di Bashrah pada tahun 165 H/ 781 M. dan meninggal di tempat yang sama pada tahun 243H/857 M. Beliau merupakan sufi dan ulama besar yang menguasai beberapa bidang ilmu seperti tasawuf, hadist, dan fiqh.[18] Beliau merupakan sufi pertama yang memiliki pengetahuan luas tentang ilmu kalam. [19]
  1. Ajaran-ajaran Tasawuf
1)      Makrifat
Beliau menyatakan bahwa makrifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang berdasarkan kepada al-Qur’an dan Sunah. Beliau menjelaskan tahapan-tahapan makrifat sebagai berikut:
a)      Taat
b)      Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati.
c)      Allah Swt menyingkapkan khazanah-khazanah keilmuan.
d)     Fanâ’ yang menyebabkan baqâ’.
2)        Khaûf dan Rajâ
Dalam pandangan beliau, Khaûf dan Rajâ menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwanya. Pangkal wara’ adalah ketakwaan, pangkal ketakwaan adalah instropeksi diri, dan pangkal instropeksi diri adalah Khaûf dan Rajâ.[20]
  1. Al-Qusyairî (376-465 H)
  1. Biografi Singkat
Bernama lengkap Abdul Karim bin Hawazin, lahir tahun 376 H. di Istiwa, kawasan Nishafur. Ayahnya meninggal saat beliau masih kecil. Beliau merupakan sufi utama pada abad ke-5 hijriyah. Ia belajar tasawuf kepada Abu Ali al-Daqqaq, mertua sekaligus seorang sufi terkenal di masanya sehingga melahirkan sebuah adikarya, rujukan para Mursyid  tarekat dalam memahami hakikat tasawuf, ilmu tasawuf, dan biografi para sufi , Kitab al-Risâlah al-Qusyairiyyah. Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa kitab ini ditulis untuk meluruskan kembali pemahaman tasawuf yang telah menyimpang, seperti lahirnya ajaran hulûl dan ittihâd serta memberitahukan kepada khalayak ramai bahwa para Mursyid mereka itu telah melakukan banyak penyimpangan dari ajaran tasawuf yang sebenarnya.[21]Ia menunaikan haji bersama Imam-imam besar dalam bidangnya, seperti Imam al-Baihaqî, seorang pakar hadir kenamaan dan Imam al-Juwainî. Selain pakar tasawuf, ia juga seorang pakar ilmu kalam. Bahkan dalam satu kesempatan, ia membantah pendapat orang yang menyatakan bahwa dalam al-Qur’an tidak ditemukan ilmu kalam. Ia menjawabnya dengan tegas bahwa banyak ayat al-Qur’an yang membahas masalah ilmu kalam yang meliputi akidah dan indikator-indikatornya. Selanjutnya ia nyatakan bahwa hanya dua orang yang tidak akan pernah mempelajari ilmu kalam, yaitu orang bodoh yang suka taklid buta dan orang yang menganut aliran rusak.
Selain seorang pakar tasawuf dan ilmu kalam, beliau juga ahli fikih dan ushulnya. Ia mampu mengkompromikan fikih madzhab Syafi‘iyyah dengan madzhab Mâlikiyyah. [22]
  1. Ajaran-ajaran Tasawuf
Semasa hidupnya, beliau berupaya untuk meluruskan kembali ajaran-ajaran tasawuf yang ia anggap telah menyimpang dari landasan ahlussunnah. Ia menegaskan adanya keharusan untuk hidup seimbang antara tuntutan syariah dan hakikat.
Terkait ajaran-ajaran tasawuf, penjelasan yang diutarakannya tidak jauh berbeda dengan pernyataan para sufi akhlâqî tentang akhlak yang harus dimiliki seorang hamba, seperti sabar, zuhud, qana‘ah, dan lain-lain. Semua penjelasannya dimaksudkan untuk dua tujuan utama, yaitu:
1)         Menekankan kesehatan batin lebih penting daripada pakaian lahir, dan
2)        Mengritik pedas penyimpangan para sufi di masanya.[23]
  1. Al-Ghazâlî (450-505 H)
  1. Biografi Singkat
Nama lengkap beliau Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us al-Thûsî al-Syâfi‘î al-Ghazâlî. Beliau dilahirkan di kampung Ghazlah, Khurasan pada tahun 450 H/1058 M. Beliau belajar menguasai ilmu mantik, kalam, fikih, ushul fikih, filsafat, tasawuf, dan retorika perdebatan. Beliau aktif mengadakan  perdebatan dengan golongan-golongan keagamaan yang berkembang waktu itu.
Di balik kegiatan perdebatan dan penyelaman berbagai aliran, timbul pergolakan dalam dirinya karena tidak merasakan kepuasan batin. Untuk itulah, ia memutuskan untuk melepasakan jabatan dan pengaruhnya untuk meninggalkan Baghdad menuju Syria, Palestina, dan Mekah untuk mencari kebenaran  hakiki. Setelah menemukannya, tidak lama kemudian beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Thus pad atanggal 19 Desember 1111 M.[24]
  1. Ajaran-ajaran Tasawuf
1)      Makrifat
Menurut al-Ghazalî, makrifat adalah mengetahui rahasia Allah Swt dan peraturan-peraturan-Nya tentang segala yang ada. Makrifat seorang sufi tidak terhalangi hijab. Makrifat sufi dibangun atas dasar dzauq ruhanî dan kasyf ilâhî.
2)      Al-Sa‘âdah
Menurut al-Ghzalî, kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi adalah meihat Allah Swt. Kenikmatan hati-sebagai alat memperoleh makrifat- akan terasa setelah melihat Allah Swt.















BAB III
PENUTUP

A.           KESIMPULAN
Baik Tasawuf akhlâqî maupun falsafî, masing-masing mempunyai tujuan dan cara sulûk yang berbeda-beda dalam mencapai kebenaran yang hakiki. Tasawuf akhlâqî memiliki ciri khas denga ajarannya tentang tahap-tahap mencapai hidup yang sebenarnya, yaitu Takhallî dari sifat-sifat kemanusiaan yang buruk, Tahallî dengan sifat-sifat ketuhanan, dan Tajallî melihat realita-realita dunia luar dan bawah sadar sehingga dapat mengetahui semua hakikat dari segala sesuatu.
B.            SARAN
Penyajian sederhana tentang tasawuf akhlâqi, sedikit dapat merangsang penulis terutama pembaca untuk lebih mengetahui secara rinci apa dan bagaimana tasawuf akhlâqî. oleh karena itu, perlu mengkaji ulang penyajian singkat ini untuk penyempurnaan kualitas materi dan sistematika pembahasannya dengan merujuk ke beberapa sumber lain yang dapat dipertanggunjawabkan secara ilmiah.











DAFTAR PUSTAKA


Armstrong, Amatullah. Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Penerjemah: M.S. Nashrullah dan Ahmad Baiquni. Bandung: Mizan, 2000.

‘Âsyûr, Sa‘îd Harun. Jawâhir al-Tashawwuf . Kairo: Maktabah al-Âdâb, 2002.

Ghalâb, Muhammad. al-Tashawwuf al-Muqâran. Kairo: Maktabah Nahdhah Mishr, T.t.

Ghazzâlî (al).  Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn. Kairo: Dâr al-Bayân Li al-Turâts, 1987.

Hafny (al), Abdul Mun‘im. al-Mausû‘ah al-Shûfiyyah: A‘lâm al-Tashawwuf  wa al-Munkirîn ‘alaih wa al-Thuruq al-Shûfiyyah. Kairo: Dâr al-Irsyâd,1992.

Solihin, M. dan Rosihon Anwar. Ilmu Tasawuf . Bandung: Pustaka Setia, 2008.
 DOWNLOAD VERSI MS WORD DI SINI


[1] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , (Bandung: Pustaka Setia, 2008) h. 111
[2] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h. 112
[3]Amatullah Armstrong, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, penerjemah: M.S. Nashrullah dan Ahmad Baiquni, (Bandung: Mizan, 2000),  h. 282
[4] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h. 115
[5] Amatullah Armstrong, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, h. 279
[6] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h. 115
[7] Sa‘îd Harun ‘Âsyûr , Jawâhir al-Tashawwuf (Kairo: Maktabah al-Âdâb, 2002), h. 67
[8] Al-Ghazzâlî, Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn (Kairo: Dâr al-Bayân Li al-Turâts, 1987),Juz 4, h. 3
[9] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h. 116
[10] Al-Ghazzâlî, Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn,h. 230
[11] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h. 117
[12] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h. 118
[13] Al-Ghazzâlî, Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn, h. 146
[14] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h.119
[15] Amatullah Armstrong, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, h. 280
[16] Zakaria al-Ansharî dalam al-Qusyairî, al-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilm al-Tashawwuf  (manuskrip kitab kuning) (T.Tt: T.Tp, Tt), h. 54
[17] Muhammad Ghalab, al-Tashawwuf al-Muqâran (Kairo: Maktabah Nahdhah Mishr, T.t), h. 52
[18] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h. 126
[19] Muhammad Ghalab, al-Tashawwuf al-Muqâran, h. 52
[20] Muhammad Ghalab, al-Tashawwuf al-Muqâran, h. 128
[21] Abdul Mun‘im al-Hafny, al-Mausû‘ah al-Shûfiyyah: A‘lâm al-Tashawwuf  wa al-Munkirîn ‘alaih wa al-Thuruq al-Shûfiyyah (Kairo: Dâr al-Irsyâd,1992),  h. 323
[22] Abdul Mun‘im al-Hafny, al-Mausû‘ah al-Shûfiyyah, h.  324
[23] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h. 134
[24] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , h. 137

Komentar