Mesjid Raya Baiturrahman: Memorial Perjuangan Rakyat Aceh dan Hempasan Tsunami


Mesjid Baiturrahman adalah salah satu mesjid raya yang paling dihormati oleh umat Islam di Aceh. Berdiri tegak nan indah di jantung kota Banda Aceh, tepatnya di Kampung Po, Teumeureuhon Meukuta, Banda Aceh. Mesjid ini sekaligus menjadi simbol Banda Aceh sebagai Serambi Mekah. Selain itu, mesjid ini juga menjadi simbol kemenangan dan pemersatu masyarakat Aceh, simbol sosial dan politik, dan menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan Islam di Tanah Rencong.
Mesjid Baiturrahman merupakan bagian dari sejarah Aceh. Dibangun pertama kali dalam bentuk yang sederhana oleh Sultan Alaudin Johan Mahmud Syah I (masa pemerintahan 1267-1309) di Kutaradja (sebelum berubah menjadi Banda Aceh pada tahun 1292). Konon, konstruksi bangunan mesjid ini hanya berbahan kayu dan beratap rumbia. Kesederhanaan mesjid ini terlihat dari penampilan lantainya yang masih berupa tanah. Jika jamaah ingin melakukan shalat di sana harus menggunakan tikar daun pandan sebagai alas agar lebih khusyu’ ketika melaksanakan ibadah.
Pada awalnya,  Mesjid Baiturrahman belum menjadi mesjid raya. Selain karena bentuknya masih sederhana, Mesjid Baiturrahman baru menapaki permulaan sebagai pusat syi’ar dan ajaran Islam. Mesjid mulai dipugar dan dibangun kembali secara permanen serta diperluas dengan konstruksi modern oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Sejak saat itu, Mesjid Baiturrahman menjadi mesjid yang megah dan indah. Kemudian mesjid tersebut selesai disempurnakan pembangunannya pada tahun 1614.
Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengalami masa kejayaannya terutama dalam peradaban Islam. Mesjid Baiturrahman saat itu menjadi pusat studi dan dakwah Islam di kawasan Asia Tenggara. Di sana berdiri perguruan tinggi Islam yang pengajarnya bukan hanya berasal dari Aceh, namun juga ulama asal Yaman, Turki, Persia, India, dan beberapa negeri Islam lainnya.
Sejarah mencatat, di balik kebesaran dan kemegahannya, Mesjid Baiturrahman mengalami beberapa kali peristiwa kelabu di masa lalu. Pertama, terjadi pada masa kepemimpinan Sultanah Sri Ratu Nurul Alam Naqiaatuddin (1675-1678). Ketika itu, kaum wujudiyyah melakukan propaganda hampir ke seluruh penjuru Kutaraja karena perbedaan pendapat mengenai kepemimpinan seorang wanita.  Mereka menentang Sang Ratu dengan melakukan makar dan pengrusakan tidak terkecuali Mesjid Baiturrahman yang dibakar habis-habisan. Perpustakaan yang ada di dalam mesjid habis dilalap api. Kebakaran ini hampir memusnahkan seluruh karya tulis Syeikh Nuruddin al-Raniry, Syeikh Abdurra’uf al-Singkili, Syeikh Nuruddin al-Sumatrani, dan Syeikh Hamzah al-Fansuri.
Kedua, Mesjid Baiturrahman pernah dihancurkan oleh tentara Kolonial Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Kohler. Peristiwa itu bermula dari ketegangan hubungan antara Sultan Mahmud Syah (1870-1874) dengan kolonial Belanda yang berakhir dengan perang fisik. Tak pelak lagi, mesjid sebagai benteng pertahanan umat Islam saat itu menjadi target sasaran kolonial Belanda. Tentara Kerajaan Aceh berperang begitu gigih meski jumlah korban dari kedua belah pihak semakin banyak berjatuhan. Dalam peperangan itu, Jenderal Kohler mati tertembak di halaman Mesjid Baiturrahman. Lokasi tertembaknya Jenderal Kohler menjadi tempat pendirian tugu prasasti lambang perlawanan heroik tentara Aceh terhadap tentara Belanda.
Mesjid yang mengalami kerusakan berat akibat peperangan di atas, dibangun kembali oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1879 atas usulan Gubernur militer, Mayor Jenderal K. Van Der Heijden. Inisiatif tersebut muncul sebagai tindak lanjut perasaan bersalah pemerintah Kolonial Belanda  atas tindakan yang tidak terpuji dan di luar batas norma bangsa yang beradab. Maka, untuk pembangunan mesjid ini, De Bruins, seorang arsitek asal Belanda, didatangkan ke Aceh. Sebelum memulai pekerjaannya, ia berkeliling dahulu ke negeri-negeri Islam untuk melihat corak mesjid-mesjid di sana. Akhirnya, ia dapat memadukan arsitektur mesjid gaya timur tengah dengan ragam etnik lokal (Aceh) bahkan ada kesan perpaduan antara gaya arsitektur Timur dan Barat. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Teungku Qadhi Malikul Adil.
Mesjid dibangun kembali pada tanggal 9 Oktober 1879 dan selesai pembangunannya pada tahun 1881. Kemudian diperluas kembali pada tahun 1935 oleh Gubernur Jenderal A.P.H. Van Aken. Setelah Indonesia merdeka, perluasan mesjid kembali dilakukan pada tahun 1958 oleh A. Hasyimy, Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Mesjid mengalami penambahan dua kubah dan dua menara di sisi utara dan sisi selatan mesjid. Sehingga pada tahun 1967, Mesjid Baiturrahman memiliki lima kubah dan dua menara.
Berhubung akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke-12 pada tahun 1981, Mesjid Baiturrahman dipersolek diri dengan penambahan tulisan-tulisan kaligrafi al-Qur’an yang terbuat dari bahan kuningan di atas kubah. Pelataran mesjid diperluas, tempat wudhu ditambah dan lantainya terbuat dari porselen, dan instalasi air mancur dipasang di kolam depan mesjid.
Kurun waktu 1992-1995, Mesjid Baiturraman mengalami perluasan kembali. Dua menara setinggi 50 meter dan satu menara taman setinggi 51 meter dengan fasilitas lift dibangun di halaman mesjid. Selain itu, dua kubah ditambahkan dan memiliki tinggi yang lebih rendah daripada kelima kubah lainnya sehingga jumlahnya menjadi tujuh buah kubah. Lima buah menara, tujuh kubah, pelataran yang luas, taman air mancur yang indah, beberapa ruang belajar dan perpustakaan merupakan penampilan fisik Baiturrahman saat itu dan sebagaimana yang dapat dilihat saat ini.
Tentunya Anda masih ingat peristiwa Tsunami yang menerjang aceh 7 tahun silam. Saat itu, ratusan ribu jiwa melayang dihempas gelombang Tsunami. Sekitar 200 orang, tergeletak meregang nyawa di halaman Mesjid Baiturrahman. Sedangkan puluhan ribu orang berlindung di dalam mesjid dan berhasil selamat dari terjangan gelombang Tsunami yang amat kencang.
Konsep pembangunan Mesjid Baiturrahman berlandaskan ajaran Islam yang menekankan rahmatan lil ‘alamin. Di dalamnya tersimpan nilai filosofis kehidupan manusia. Ini dapat dilihat dari tiga zona lingkungan mesjid. Lingkungan pertama adalah zona sosial, pengunjung mesjid dapat bercengkrama dan berinteraksi antar sesama dengan bebas. Keindahan dan keasrian halaman Mesjid Baiturrahman memberikan kesan tersendiri kepada setiap pengunjugnya. Sebab Mesjid tidak hanya semata sebagai tempat ibadah, tapi juga dapat berfungsi sebagai tempat rekreasi.
Serambi dalam mesjid merupakan zona transisi. Pada beberapa bagian serambi, terdapat ruang-ruang kelas belajar. Zona ini menjadi penghantar sebelum memasuki zona inti. Pada area ini, keindahan mesjid dari setiap sudutnya memberikan nuansa syahdu dan lembut. Ia menghadirkan ketenangan jiwa. Di sini, setiap individu dituntun untuk kembali merefleksikan dirinya sebelum menghadap Tuhannya, Allah swt.
Zona terakhir adalah zona ritual. Zona ini merupakan zona inti yang menjadi tempat setiap wajah tertunduk mengharapkan ampunan dan rahmat Allah swt. Lirihan doa yang dipanjatkan, gerak shalat, raut muka kesejukan umat Islam membangun suasana khusyu’ di ruangan besar ini.
Ruang utama mesjid yang menjadi zona inti ini disangga 136 pilar-plar kokoh. Barisan pilar-pilar ini menyiratkan kisah keteguhan rakyat Aceh mempertahankan mesjid ini dari gempuran tentara kolonial Belanda.
Mesjid yang mampu menampung 7000 jamaah ini dibuat dan dirancang dengan arsitektur yang luar biasa. Faktor inilah yang menjadi penyebab kuatnya bangunan masjid Baiturrahman, tidak hancur walau diterjang gelombang Tsunami yang amat kencang pada tahun 2006 silam. Tentunya, kuasa Allah yang membuat mesjid ini tetap berdiri kokoh dan tegak tak lekang dimakan usia dan bencana.
Akhirnya, di balik keindahan dan  keanggunan Mesjid Raya Baiturrahman tersimpan luka, derita, perjuangan, asa, dan kebanggaan rakyat Aceh. Ia akan tetap tertanam di hati setiap rakyat Aceh. Ia akan tetap menjadi tempat sujud hamba-hamba Allah yang bersimpuh. Karena ia merupakan simbol kehidupan masyarakat Aceh.

Komentar